Sabtu, 27 April 2013

SEPASANG CINTA


Sang Wanita:
Aku mencintainya... tak ada kalimat yang paling tepat menggambarkan segala perasaanku untuknya. Dia laki-laki sempurna, dengan segala ambisi dan cita-citanya. Wajahnya selalu penuh semangat saat bercerita tentang mimpinya. Dan aku akan selalu mendengarkan dengan seksama, dalam setiap detail sambil sesekali membisikkan doa-doa. Lalu dia akan meraih kepalaku, menciumi rambutku dan berbisik “I love U...”. sebuah potongan kisah sempurna pada suatu masa dalam kehidupan.
Lalu tragedi itu terjadi. Sebuah kecelakaan di suatu petang, merubah kehidupanku. Seperti cat hitam yang tertuang begitu saja diatas lukisan sempurna sebuah rumah dengan langitnya yang berpelangi. Hitam... Pekat..
Sebagian tulang belakangnya remuk, menyebabkan beberapa syarafnya tak berfungsi. Dia lumpuh. Sosok tegapnya kini tertunduk lesu pada sebuah kursi roda.
Tak ada yang berubah pada hati dan perasaanku. Aku masih sangat mencintainya, sama seperti sebelumnya, apapun keadaan dirinya kini, perasaan itu tak berkurang sedikitpun.
Seringkali pada tidur malamnya, dia tiba-tiba terbangun, dengan tubuh basah oleh keringat dan nafas yang terburu, lalu mengeluhkan rasa nyeri di punggung belakang dan kedua kakinya. Aku seringkali tak tau harus berbuat apa saat melihatnya seperti itu. Hanya bisa memeluknya, sambil merasakan airmata yang perlahan menetes di pipiku. Aku tak mau dia melihatku dalam kesedihan, aku takut itu hanya akan menyakitinya.
Awalnya dia masih “bisa” mengucapkan kalimat pendek, tapi kemudian hanya satu, dua patah kata dan sekarang dia hanya diam, seringkali wajahnya tanpa ekspresi. Sesekali terdengar suara “hemm...” dari mulutnya, tapi itupun sangat jarang.
Aku tau sebenarnya tak ada masalah dengan organ-organ tubuh untuk berkomunikasi pada dirinya. Dokter sangat yakin saat mengatakan itu. Lalu aku mulai menyadari, bahwa mungkin dirinya hanya merasa kecewa. Marah pada dunia, atau lebih tepat mungkin pada takdirnya.
Jadi setiap sore aku mengajaknya berjalan di taman, menikmati udara segar dan pepohonan. Sambil mendorong kursi rodanya, aku bercerita tentang apa saja. Aku tau dia mendengarkan, dia hanya “tidak mau” memberi respon atas apapun yang aku katakan.
Lalu kami berdua berteduh di sebuah pohon rindang, tempat favorit kita dulu. Terkadang aku membawakan beberapa potong kue kesukaannya, menyuapinya sambil terus bercerita dan memandangi kedua matanya.
Lain waktu aku hanya duduk dekat kakinya, mengelus punggung tangannya, memainkan jemarinya, lalu merebahkan kepalaku di pangkuannya. Seringkali aku berharap, dia akan membelai rambutku seperti dulu. Tapi dia hanya diam.
Tak apa, semua yang kulakukan hanya ingin agar dia mampu merasakan bahwa aku mencintainya, apapun keadaannya, karena bagiku, cinta sudah cukup memenuhi untuk cinta itu sendiri.

Sang Pria:
Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Tak ada alasan untuk aku tidak jatuh cinta padanya. Senyumnya, sepasang matanya yang berbinar setiap kali bercerita, gayanya saat berusaha merajuk, tertawa, bahkan saat marah, semua itu cukup membuatku berdebar dan “hidup”.  Aku merasa begitu lengkap sebagai laki-laki saat berada di dekatnya. Aku sanggup melakukan apa saja demi dirinya.
Kususun semua mimpi dan harapan setinggi mungkin, demi dia. Segala hal untuk dirinya.
Lalu tragedi itu terjadi.
Hidupku berubah karena kecelakaan itu. Tak pernah terbayangkan, diriku akan menjadi sesosok tak berguna di kursi roda.
Bagaimana aku bisa melindungi dirinya? Sedangkan untuk menolong diri sendiri aku tak mampu? Dan sungguh, ini sangat menyakitkan. Jauh lebih sakit dari apapun yang kurasakan secara fisik.
Aku mencintainya.
Kalimat itu sekarang tak berarti apa-apa, hanya sebuah harapan kosong, bahwa aku mampu mendampingi dia sampai renta, menjaganya dari apapun yang bisa menyakitinya, memberikan segala apa yang diinginkannya, mewujudkan sebuah dunia indah tanpa cela, selayaknya dirinya bagiku.
Dan lihat, betapa bodohnya dia dengan segala apa yang dilakukannya untukku. Apa dia tak bisa melihat dengan jelas keadaanku sekarang. Sungguh dia telah buta oleh rasa belas kasihan. Tak bisakah dia berpikir lebih rasional, apa yang diharapkannya pada laki-laki cacat sepertiku?
Sampai kapan pun aku hanya akan menjadi bebannya.
Ketidakberdayaan ini seakan justru membangkitkan segala aura negatif dalam diriku. Aku menjadi begitu pemarah sekaligus pencemburu, dadaku bergemuruh, nafasku sesak dan hatiku diliputi perasaan takut kehilangan, setiap kali dia berbicara dengan dokter itu. Bukan.. bukan hanya dokter itu, aku cemburu pada semua orang yang berada didekatnya, yang selalu memandangnya dengan sayang, berusaha meyakinkan dirinya untuk menguatkan. Dan setiap kali itu terjadi aku merasa hanya sebagai seonggok sampah yang harus dia bawa-bawa kemana pun dia pergi. Aku benci diriku sendiri.
Lalu aku berusaha agar dia membenciku. Aku tak mau bicara dengannya, aku berusaha tidak peduli dengan segala apa yang dilakukannya. Mungkin itu jauh lebih baik untuk dirinya. Aku tak ingin melihatnya bersedih. Tapi justru aku orang yang paling sering membuatnya menangis karena ketidakberdayaanku.
Tolong singkirkan aku dari hidupmu, karena aku tak mempu melihatmu dalam kesedihan.
Itu kalimat yang ingin kuteriakkan padanya, tapi selalu tercekat dalam tenggorokanku. Aku tak pernah merasa mampu melakukannya..
Aku ingin dia membenciku, karena aku merasa cintaku hanya akan menyakitinya. Karena bagiku, cinta tak akan punya arti bila tak lagi bisa saling mengisi.

-          Tamat    -

Jumat, 19 April 2013

RADJA DAN AKU




Wanita diukur dari kesetiaannya, Nduk... 

kalimat itu terngiang. Kutatap bayangan di cermin.  Menelusuri setiap detail dari apa yang terpantul.  Ada beberapa kerut halus di sudut mata, garis senyumku juga mulai terlukis nyata. Kuraih sisir kayu yang tergeletak di meja, lalu mulai menyisir helai demi helai rambutku. Sudah saatnya aku mewarnai rambut lagi, bathinku. Kutemukan beberapa helai putih di dekat telinga kanan.
Kamu tau apa arti setia itu?.. 

kembali suara itu mengisi kepalaku.
“Eyang buyut telah menjanda sejak usia dua puluh tujuh tahun, dan sampai usia hampir tujuh puluh tahun, eyang tidak pernah bisa menggantikan posisi Romo Buyutmu dengan laki-laki lain.”
Aku menghela nafas, berusaha melegakan sesuatu yang tiba-tiba terasa mencekat tenggorokan.
Eyang buyut, nenek dan seorang budhe ku, para wanita yang memutuskan menjaga kesetiaan pada pasangannya bahkan sampai saat maut memisahkan. Mereka memilih untuk menjanda selama sisa hidupnya; tidak ada yang bisa menggantikan posisi, Romo buyut, kakek juga pakdhe, itulah bentuk kesetiaan mereka, menjaga kesakralan janji setia bahkan saat harus menjalani kehidupan ini “sendiri”.
Aku beranjak dari meja rias, berjalan menuju sisi ranjang.  Termenung, berusaha menganalisa apa yang ada dalam kepala. Kuedarkan pandangan menyapu seluruh ruang kamar, dan terhenti pada meja ukir di sudut ruangan, disana berjajar beberapa foto dalam bingkai-bingkai berwarna hitam dan perak. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa begitu kosong. Sebuah kehampaan yang menyelimuti saat memandangi  foto-foto itu. Satu diantaranya saat pernikahanku, beberapa lagi foto-foto saat berlibur di beberapa tempat.  Kesemuanya  hanya berisi kami berdua, aku dan Radja; suamiku. Kembali sebuah desakan terasa menohok dadaku. 
Tidak...saat ini aku tidak akan menangis, aku harus berpikir secara rasional untuk mampu mengambil sebuah keputusan,  atau justru keputusan ini harusnya aku ambil dengan mempertimbangkan perasaan terdalam? Tanyaku pada diri sendiri. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis suara-suara yang kembali memenuhi kepalaku.
Apa yang sebenarnya yang aku cari dalam hidup ini? 

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kebahagiaan, bisikku pada diri sendiri.. Sebuah jawaban bias, sebuah suara lain dalam kepala menyalahkan, itu jawaban umum dari semua orang. Kebahagiaan sebuah kata yang membutuhkan penjelasan, perwujudan, hal yang lebih nyata dari sekedar suatu perasaan yang tak terukur.  Aku mencintai Radja, sangat mencintainya, sepenuh hati, jiwa dan ragaku. mungkin dalam beberapa hal aku begitu menjunjung konsep tentang wanita jawa, “garwo” (sigaraning nyowo) yang artinya separuh nyawa dari pasangan. Begitulah aku menyadari keberadaanku sebagai wanita. Itulah bentuk nyata dari kata “bahagia” ku selama ini. Dan kini aku mempertanyakan tentang konsep bahagia itu sendiri. Kebahagiaan-ku, terdengar sedikit egois, karena kini aku jadi berpikir bahwa kebahagiaan suamiku, (mungkin) lebih penting dari kebahagiaanku sendiri. Benarkah? Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, tiba-tiba aku merasa begitu lelah. Lelah dengan segala konsep, teori dan filosofi yang berusaha aku jejalkan dalam kepala.
Karena kamu wanita, maka kesetiaan begitu penting, itu konsep sederhana yang kupahami. Lalu bagaimana dengan laki-laki? Mengapa kata kesetiaan tidak terlalu menjadi “beban” bagi mereka? Tiba-tiba saja aku merasa iri dengan Hawa. Dia yang tercipta “hanya” untuk mendampingi  Adam, tak perlu merasa  khawatir bahwa cintanya akan dibagi pada perempuan lain. Takdir telah menuliskan bahwa mereka menjadi pasangan. Meyakini bahwa tulang rusuk Adam yang hilang, terwujud dalam sosok Hawa. Yah, karena takdir, telah begitu “baik” bagi mereka. Takdir? Bahkan aku kini mempermasalahkan takdir, apa hakku untuk mempertanyakan hal itu? Takdirku adalah sebagai seorang  wanita, yang telah menikah selama lima belas tahun dengan laki-laki yang dicintai sepenuh hati, dengan sebuah kenyataan bahwa aku tidak mampu memberikan keturunan. Dengan keadaan itu, apakah aku masih punya hak untuk menuntut “kesetiaan” dari laki-laki yang aku cintai. Bahwa ternyata ketulusan dan kesetiaan, tidak cukup mampu membayar kebahagiaan suamiku.  Airmata itu tak mampu aku bendung lagi, mengalir begitu saja dari kedua mataku, dan dalam hati aku berharap tangisan ini akan mampu membasahi hatiku yang terasa kering. 
“Ijinkan aku menikah lagi...” 

kalimat pendek itu ternyata mampu membawa efek dahsyat bagi duniaku saat itu. Dalam beberapa detik aku merasa langit runtuh menimpaku. Kutatap wajah Radja lekat-lekat. Mencari kedalam matanya, benarkah itu yang baru saja diucapkannya? Kuraih cangkir teh dihadapanku, meminumnya seteguk dan merasakan duri-duri kecil  seakan menusuki tenggorokan. Kuhela nafas panjang, memberi ruang lebih banyak pada oksigen memenuhi paru-paru. Susah payah kucoba mengukir sebuah senyum di wajah. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapannya.
“Aku mencintaimu sepenuh hati, Nayla... tidak akan ada seorang pun yang akan bisa menggantikan posisimu dalam hatiku..tapi...”
“Aku tau dan tak perlu penjelasan...” potongku cepat. Aku tidak mau mendengar kalimat yang lebih menyakitkan lagi.
“Maafkan aku...” 

tiba-tiba Radja telah duduk bersimpuh, dan memegang erat-erat kedua telapak tanganku. Kepalanya tertunduk sambil menciumi jemariku, kurasakan airmatanya membasahi punggung tanganku. Kuusap lembut rambutnya. Dia seperti anak kecil yang menangis karena telah kehilangan mainannya.
“Beri aku waktu untuk berpikir...” akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibirku.
Hening. Masing-masing dari kami larut dalam pikiran sendiri.
“Kamu tau bahwa orang tuaku yang ingin agar...aku...tapi, sebenarnya...”
Aku hanya diam, menunggu apapun yang akan dikatakannya lagi. Tapi ternyata dia tidak mampu meneruskan kalimatnya. Kami kembali tenggelam dalam sepi.
Hari-hari selanjutnya adalah kesepian yang sebenarnya. Aku meminta waktu “sendiri”. Sebenarnya aku berharap Radja membiarkanku untuk pergi dari rumah sementara waktu, untuk menenangkan pikiran. Tapi dia tak mau itu. Dia memilih untuk dirinya yang sementara pergi, entah kemana, mungkin ke rumah orang tua, atau justru ke rumah “calon mempelainya”. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis pemikiran yang terasa menyakiti diriku sendiri. 
Dan tinggal sendiri di rumah, justru semacam “hukuman” bagiku.  Segala hal yang ada di rumah ini, hanya semakin mengingatkanku pada kebersamaan bersama Radja. Seringkali saat tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghabiskan waktu, kukeluarkan semua baju-bajunya dari dalam lemari, lalu kusetrika kembali satu persatu. Menelusuri setiap bagian dari pakaiannya, sambil membayangkan momen-momen saat dia memakainya, terkadang kuciumi sambil berharap ada sisa bau tubuhnya yang tertinggal disana. Dan kenyataan selanjutnya adalah rasa sesak yang semakin membuncah dan mengalirkan airmata, lalu aku hanya terduduk sendiri disudut ruangan sambil menangis tersedu-sedu.
Sarapan pagi ini, kembali aku tercenung sendiri. Hanya denting suara sendok saat mengaduk kopi yang mengisi kekosongan. Kuoles perlahan selembar roti dengan mentega. Kenangan itu berkelebat begitu saja. Radja tidak  suka saat aku mengoles lembar rotinya dengan terlalu banyak mentega, aku sudah tau pasti takaran untuk mentega, selai atau seberapa kering aku harus memanggangnya. Aku selalu menyukai segala detail yang harus aku lakukan untuk melayaninya. Kini yang terasa sangat menyakitkan bahwa segala cinta dan perasaan yang kumiliki harus dihargai “hanya”  sebatas rahimku.  Laki-laki mungkin memang tercipta untuk selalu dimengerti dan wanita harus berusaha selalu mengerti, seberapapun pahitnya itu. Aku tak tau mana yang lebih mengerikan, hidup dalam kesendirian dan kesepian selama sisa hidup ataukah membayarnya dengan segala ketidaknyamanan atas ego dan kecemburuan? Tak ada yang lebih baik dari keduanya.
Kami duduk berdua, saling berhadapan. Radja tampak jauh lebih kurus dari saat terakhir aku melihatnya. Matanya tampak cekung, aku tau ini juga bukan hal yang mudah untuk dirinya. Kucoba menghadirkan sebuah senyum, dia membalasnya sambil memegang erat kedua telapak tanganku.
“aku mencintaimu, mungkin aku tak perlu mengatakannya...kau cukup bisa merasakan itu...” 
kuhela nafas, mencoba mengatur kalimatku.
“aku merasa takut untuk hidup sendiri...” 
 kutunggu reaksinya. Tapi Radja hanya diam sambil menatap mataku.
“permintaanmu untuk menikah lagi sungguh sangat menyakitiku...tapi aku sadar tak punya cukup pilihan, mungkin ini termasuk bagian dari takdirku..”
Radja menghela nafas, terdengar begitu berat.. 
“aku ingin kau bahagia, itu sebuah hal sederhana yang merangkumkan segala perasaanku untukmu atas apa yang telah kulakukan selama ini. Ternyata tak mudah menukar perasaan ini dengan kenyataan yang kau sodorkan padaku. Aku harus memilih antara kebahagiaanmu dan kebahagianku sendiri. Dan sungguh, aku berusaha untuk tidak egois, tapi aku juga punya hak untuk adil pada diriku sendiri..”
“aku mengijinkanmu untuk menikah lagi..”

 kalimat itu terasa mengiris hatiku sendiri. Radja tampak terkesiap, menatap wajahku lekat-lekat seakan mencari kesungguhan atas kalimat itu. Kubiarkan keheningan membelenggu, sejenak kembali menimbang antara hati dan kenyataan, antara rasa cinta dan ego ku sebagai manusia. Setiap manusia pada akhirnya harus sendiri, itu hanya masalah waktu, setiap kita akan mampu menghadapi segala kepahitan, bahwa kita harus mampu mencintai diri sendiri untuk memberikan separuhnya pada orang lain karena setiap orang berhak untuk bahagia.
Kembali kutatap wajah sosok yang telah menemani dan mengisi hari-hariku selama sekian belas tahun dalam kehidupanku. Kuyakinkan diri bahwa aku masih sangat mencintainya. Dan semakin yakin dengan keputusan ini.
“ceraikan aku...”

-Tamat-

Sabtu, 23 Maret 2013

Tentang Bintang


Kuberi nama dia “Bintang”, karena itulah aura yang kurasakan saat kulihat bening dua bola matanya. Karena dia memang selayaknya cahaya kecil, indah berkelap kelip di pekat malam. Karena dia pembawa keajaiban dalam keheningan sebuah rumah.
Sembilan tahun bukan waktu yang singkat untuk menanti kehadirannya. Dan mukjizat itu datang, saat aku mendengar dokter memberitahu bahwa aku positif hamil. Tak mampu kugambarkan suka cita yang menyelimuti hati. Kebahagiaan itu adalah milik kami, aku dan suamiku. Wujud dari sebuah cinta yang dipelihara dengan kesabaran dan keyakinan.

Bintang.. hanya itu nama yang kusematkan pada bayi mungil yang menangis kencang dalam dekapanku saat itu, bentuk nyata sebuah keajaiban. Airmata mengalir, selayaknya kesejukan yang melingkupi hati dan jiwaku. “terima kasih Tuhan…” hanya itu yang mampu terucapkan dari bibirku. Tak ada yang lebih indah daripada menjadi seorang ibu.

Hari berlalu, bulan berganti tahun. Sengaja aku berhenti bekerja untuk memberikan kasih sayang sepenuhnya. Tuhan begitu pemurah mempercayakannya padaku. Segala hal terbaik yang mampu kuberikan untuk Bintang. Cinta, kasih sayang dan perhatian, dia adalah segalanya untukku. Setiap detail yang mampu kurekam dalam memoriku tentang Bintang. Aku tak mau melewatkannya. Dari gaya menggeliatnya, caranya membuka mata, suara tangisnya, tendangan-tendangan kecilnya, gerakan jemari kecilnya. Keajaiban melingkupi setiap detik, menit, jam, waktuku. Ada satu hal yang sedikit mengusik. Seiring waktu baru kusadari bahwa aku tak pernah melihat senyum di wajah Bintang. Awalnya kupikir memang seperti itulah bayi pada umumnya, mereka belum bisa mengungkapkan perasaan selain tangisan saat lapar dan tidak nyaman karena popoknya yang basah. Kutepis segala perasaan itu. Secara fisik, Bintang juga anak yang cukup sehat. Gigi pertamanya mulai tumbuh di usia tujuh bulan. Umur sembilan bulan dia sudah mulai berdiri dan belajar jalan. Sepuluh bulan dia sudah lancar berjalan. Setahun dia sudah berlari kesana kemari, tapi sampai pada usia itu, senyum itu begitu sulit kutemui di wajah mungilnya. Dia terlihat pemurung diantara teman-teman seusianya.
Sampai pada suatu hari, dia tampak begitu tertarik dengan sebuah spidol berwarna merah yang ditemukannya di bawah meja kerja suamiku. Baru kulihat sebuah senyum kecil mengembang di wajah mungilnya. Lalu dia mulai sibuk mencoret-coret segala sesuatu, termasuk tubuhnya sendiri, awalnya kulihat kelucuan disitu. Tapi lama kelamaan dia tampak terobsesi dengan spidol merah itu, seluruh tubuhnya penuh dengan coretan berwarna merah, bahkan sampai wajahnya. Saat kuambil spidol itu dia berteriak, menangis sekencang-kencangnya seakan aku telah merebut sesuatu yang sangat berharga darinya. Aku begitu kebingungan dengan reaksinya saat itu. Kudekap erat-erat dirinya, berharap bisa menenangkan, tapi dia masih tetap menangis meraung-raung. Terasa ada sesuatu menyayat dalam hati saat mendengar tangisannya. Aku tahu dia terluka, bukan secara fisik, tapi lebih dalam hatinya, tanpa sengaja aku telah melukainya, dengan mengambil sesuatu yang mampu menghadirkan sebuah senyum di wajahnya yang selalu diliputi kemurungan.
Esoknya, demi menebus apa yang telah terjadi dengan spidol merah, kubelikan dia sekotak pensil warna. Sepasang matanya berbinar takjub melihat deretan warna-warni dihadapannya. Tak lama kemudian Bintang sudah asyik mencorat coret kertas gambar, dengan berbagai warna. Dia begitu menikmati proses itu, dan mampu melakukannya sampai berjam-jam lamanya. Aku sendiri tidak terlalu paham tentang seni. Tapi yang kurasakan adalah semangat Bintang saat menggambar, dia seperti menemukan sebuah dunia indah dalam versinya, yang tak seorang bisa memasukinya, bahkan aku...ibunya.

“Putri ibu mengidap autisme….” Dokter mengatakan hal itu dengan nada datar.
Aku hanya tertegun mendengarnya. Pikiranku terasa kosong, sedikit sulit mencerna apa yang baru saja kudengar, antara berusaha menerima dan berpura-pura itu hanya imajinasiku. Aku menoleh kearah suamiku yang tampak terdiam dengan wajah yang aku juga tak mampu menduga apa yang sedang berkecamuk dalam bathinnya. Lalu kualihkan pandangan pada Bintang, yang sedang duduk di lantai asyik mencorat coret kertas. Sedetik kemudian sesak itu terasa membekap.
Bagaimana mungkin malaikat kecilku mengidap autis? Dosa apa yang telah kami perbuat? Bagaimana nanti dia di lingkungan? Bagaimana dia bisa menjaga dirinya di tengah belantara dunia? Apa yang harus aku lakukan?
Dan airmata itu deras mengucur, tanpa yakin atas apa yang aku rasakan sepenuhnya. Aku beranjak dari kursi, melangkah menuju Bintang, lalu memeluknya erat-erat, berharap kehangatan dari dekapanku akan mengalirkan kekuatan yang mungkin bisa membuatnya merasakan segala cinta yang ingin kucurahkan untuknya.
Tapi yang kurasakan, reaksi Bintang hanya diam, sejenak kemudian mulai memberontak, menolak pelukanku. Aku mempererat dekapan, menahan gerak tubuhnya yang berusaha melepaskan diri. Tangisku semakin keras, aku hanya ingin menyatukan tubuh mungil itu ke dalam diriku, mengisi kekosongan yang mungkin menguasai dirinya, ikut merasakan kehampaan yang melingkupi dunianya.
Bintang mulai menangis, suaranya yang memilukan semakin memperat pelukanku. Kami berdua tenggelam dalam drama. Suamiku dan dokter segera datang berusaha melepaskan diriku yang mulai semakin histeris. Aku masih sulit menerima kenyataan ini. Bahwa anakku seorang penderita autis.

Kupandangi berlembar-lembar kertas penuh gambar dan warna warni. Berulang kali aku mencoba mencerna apa yang ada dihadapanku. Beberapa berisi warna-warna gelap, sebagian lagi diantaranya berisi warna-warna yang sangat cerah, dipenuhi lingkaran-lingkaran kecil, kadang bentuk-bentuk tidak beraturan, tapi memiliki warna senada. Ada satu hal yang kurasakan pada gambar-gambar itu, entah apa. Tapi tekadang aku seperti bisa membaca sesuatu yang ingin diungkapkan lewat warna warni diatas kertas itu. Kadang terasa semacam kesedihan, kesepian, terkadang ada keceriaan walaupun aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjelaskan apa yang ada dipikiranku secara rasional.
“Bintang....” bisikku lembut. Aku tau dia tidak akan mendengarku. Saat ini dia sedang tertidur pulas. Kuambil perlahan beberapa pensil warna yang masih ada dalam genggamannya. Kucium perlahan pipinya, sekilas kulihat jemarinya yang penuh warna-warni. Kuraih tissue dan membersihkannya perlahan. Tiba-tiba kurasakan mataku telah basah oleh airmata. Saat ini aku hanya ingin bersyukur telah menerima anugerah indah ini. Kuusap lembut keningnya, kurasakan hangat menyentuh telapak tanganku. Aku terkesiap, segera kuraih pengukur suhu tubuh, sesaat kemudian kulihat angka yang tertera tiga puluh delapan derajat. Aku mulai merasa gelisah. Dan selalu seperti itu saat Bintang sakit. Aku selalu merasa terlalu takut kehilangan. Kuambil pengompres, dan mulai melakukan ritual untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Tubuh kecil itu tampak lemah di tempat tidur, selang infus di tangan kirinya. Beberapa selang lagi terpasang di bagian tubuh lainnya. Matanya masih terpejam, entah sudah berapa lama. Aku tak bisa lepas memandanginya. Membayangkan bibir mungil itu akan mengucapkan sesuatu. Kuraih tangan kecil Bintang, menciumnya, berharap akan ada gerakan dari sana. Aku sudah tak punya airmata, itu yang aku rasakan setelah berhari-hari menangisinya.
Tuhan, apa yang Engkau rencanakan? Mengapa Kau memberiku kesempatan “hanya” sesingkat ini? Apakah ini semacam hukuman bagiku? Apa rencanaMu? Kalimat itu yang terus menderaku. Aku tidak mau kehilangan Bintang...Kumohon Tuhan, bisikku..
Aku akan menerima dia seperti apa adanya, dengan segala apa yang Kau limpahkan untuknya. Tolong beri aku kesempatan untuk bisa menjaganya lebih lama.
Tuhan, apa kau begitu sibuk untuk sekedar mendengarkan doaku? Mengapa harus Bintang-ku yang merasakan segala rasa sakit itu? Tak bisakah aku yang menggantikannya?
Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengurangi segala rasa beban yang dirasakannya?
Tuhan, tolong beri petunjukMu, Engkau yang Maha Pengasih, Maha Cinta, tolong beri aku kekuatan.
Bintang menderita radang otak, dan harapan hidupnya sangat tipis, itu yang dikatakan dokter beberapa hari yang lalu. Padahal dia baru berusia empat tahun. Dengan segala rencana yang telah kusiapkan untuknya, dengan segala keadaan dirinya yang telah menjadi kelengkapan dalam hidupku.
Mengapa Tuhan? mengapa harus Bintang? Mengapa harus aku yang merasakan beban sedalam ini?

“mama...” tiba-tiba kudengar suara kecil itu. Aku berusaha memastikan diri bahwa suara itu bukan hasil halusinasiku.
Kulihat Bintang disana telah membuka mata. Kudekatkan wajahku ke wajahnya.
“ya...ya..Bintang sayang...” terbata-bata aku mengucapkan kata.
Bibirnya bergerak-gerak tapi aku tidak mampu mendengar apa yang dikatakannya. Kudekatkan telingaku, tapi aku tetap tak bisa mendengar apa-apa. Kupandangi wajahnya, berusaha mencari tau apa yang ingin diungkapkannya.
Lalu kulihat keajaiban itu, Bintang memandangku lekat lalu tersenyum, sebuah senyuman “untukku” hal yang telah kunanti selama empat tahun ini.
Airmataku mengalir seiring tangannya yang terasa semakin melemah dalam genggamanku.
Terasa ada udara dingin memenuhi dadaku. Pergilah Bintang...mama ikhlas..Mungkin ini yang ingin Tuhan ajarkan pada mama, tentang “keikhlasan” bahwa kita semua akan kehilangan, itu hanya masalah waktu, bukan tentang kesiapan kita saat menghadapinya, tapi bagaimana kita saat harus menjalaninya. Bahwa “setiap” kita memiliki sesuatu kita harus siap dengan “segala” kehilangan.
Terimakasih Bintang...karena sampai kapanpun kau akan tetap menjadi “bintang” di langit, yang walaupun tak terlihat, aku tahu bahwa kau selalu ada di atas sana.

- Tamat -

Behind the scene: cerpen ini sempat cukup lama ke-pending. Selain karena alasan waktu dan mood yang seringkali susah diajak kompromi, juga karena pas menulis cerpen ini saya terlalu terbawa suasana hati. Baru selembar ngetik udah keburu nangis berlinangan airmata (cengeng mode on) saya pikir waktu itu sedang dalam masa PMS dan hormon lah yang menjadi "tersangka" utama penyebabnya. Karena pemikiran idealis, akhirnya saya memutuskan untuk me-rehat-kan sejenak penulisannya, karena seringkali kalo terlalu terbawa suasana hati, hasilnya malah gak bagus.
dan sore ini (akhirnya) saya berhasl menyelesaikannya, dan (masih) sempat menitikkan airmata (mungkin karena si hormon -lagi-)
Cerpen ini terinspirasi saat naek angkot tanpa sengaja, bersama seorang anak berkebutuhan khusus. 
Sudah cukup lama ide nya tapi belum berhasil menuangkan dalam sebuah tulisan. 
NB: cerita ini khusus terdedikasikan untuk para anak istimewa yang dikirimkan Tuhan untuk mengajari banyak hal tentang makna kehidupan, terlebih untuk para ibu hebat yang karena kasih sayang Tuhan juga, mendapat kepercayaan untuk mendampingi mereka.

Jumat, 30 November 2012

Serpihan Kisah


Tentara muda itu mengerang memegangi bahu kanannya. Darah segar masih mengucur. Rasa nyeri terasa menghujam seluruh tubuhnya. Luka tertembus timah panas meninggalkan bekas berupa lubang kehitaman bercampur darah. Peluh membasahi tubuhnya. Dia berada di tengah puing-puing bangunan, suara sirine yang menjauh, bau terbakar menyatu dengan anyir darah. Asap masih membumbung di beberapa atap rumah. Perang dan kehancuran. Itu yang terlintas di benaknya.
Pasukannya kocar kacir entah kemana. Beberapa diantaranya tampak tergeletak tak jauh dari tempatnya terbaring. Perlahan si tentara berusaha bangkit, tapi dia seakan kehilangan seluruh energi. Rasa nyeri masih menguasai. Sebentar lagi mungkin akan datang pasukan dari pihak musuh; membawanya, menyiksanya, bila masih beruntung mungkin dia dibiarkan hidup beberapa lama, tapi kemungkinan besar dia akan mati, mungkin ini menjelang akhir hidupnya, saatnya berdoa pada Tuhan yang dikenalnya.

Tentara itu merasa pusing dan mual, karena dia kehilangan banyak darah. Tenggorokannya kering, serasa terbakar. Nafasnya tersengal-sengal, pandangan mulai mengabur. Tiba-tiba samar dia melihat sesosok  gadis berdiri di dekatnya, diam, hanya memandangi.
Mungkin aku mulai berhalusinasi, pikir si tentara muda. Dipicingkannya mata, mengusap perlahan, berusaha memastikan bahwa yang dilihatnya memang nyata.
Tampak mulai jelas sekarang, berdiri didekatnya, seorang gadis berusia sekitar lima belas tahunan dengan baju lusuh, kotor, selembar kerudung tampak menutupi rambutnya. Wajah gadis itu terlihat coreng moreng oleh debu dan abu kebakaran.
Gadis itu masih diam, menatap tentara muda yang mulai mengerang kesakitan, tampaknya si tentara berharap suara yang keluar dari mulutnya akan mengurangi rasa sakit yang diderita.
Lalu gadis itu merunduk, melihat luka tembak di bahu kanan tentara itu. Dan sekejap kemudian dia pergi dari hadapan si tentara.
Tentara itu menghela nafas lega. Entah mengapa tadi dia merasa begitu ketakutan. Syukurlah dia pergi, bathin si tentara. Tapi belum berapa lama, gadis itu telah kembali dengan membawa pisau dan sebotol cairan.
Matilah aku, pikir si tentara.
Gadis itu semakin dekat, si tentara menahan nafas, degup jantungnya semakin kencang. Ternyata kematian begitu menakutkan, bathinnya. Dipejamkannya mata, mulutnya komat kamit membaca berbagai doa yang diingatnya.
Saat kembali membuka mata, dilihatnya gadis itu sedang memperhatikan lukanya dengan serius.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya si tentara gusar.
Gadis itu hanya diam. Tampak berpikir dengan mata yang masih tak lepas dari luka si tentara.
“Hei..apa yang akan kau lakukan? Kau mau membunuhku? Silahkan.. tolong lakukakan saja dengan cepat, kau tak perlu menyiksaku..”
Gadis itu masih diam.
Tentara itu beringsut berusaha menjauhi sang gadis.
Gadis itu menghela nafas, menatap tajam pada si tentara, dengan wajah kesal.
“Membunuhmu tidak akan pernah menghidupkan kembali ayah dan kakak laki-lakiku…” rahangnya tampak mengeras saat mengatakan kalimat itu.
“Diamlah..mungkin akan terasa menyakitkan..” katanya lagi.
Gadis itu menyobek sedikit kain bagian bawah bajunya, dan menyumpalkan ke mulut si tentara,
“Gigit itu, untuk menahan rasa sakit” perintahnya.
Tentara itu diam, kebingungan, belum bisa menerima apa yang dialaminya saat ini bukan sekedar halusinasi.
Sang gadis mengguyurkan cairan berbau alkohol dari botol yang dibawanya ke luka si tentara.
Tak lama kemudian, si tentara merasakan sakit luar biasa saat pisau gadis itu menyayat luka di bahu kanannya. Digigitnya kain dimulutnya untuk menahan nyeri yang terasa diseluruh tubuh. Sesaat dirinya seperti berada antara hidup dan mati.
Tentara itu tak ingat berapa lama dia merasakan siksaan rasa sakit. Saat dia kembali mendapat kesadaran penuh, dia melihat lukanya telah terbalut, di telapak tangannya ada sebutir peluru yang berlumuran darah.

“Minumlah…” kata gadis itu seraya mengulurkan sebotol air mineral, entah darimana gadis itu mendapatkannya.
“Kau sempat pingsan sebentar tadi” kata gadis itu, dengan raut muka dingin, jemarinya masih dipenuhi darah.
“Kenapa kau lakukan ini?” tanya si tentara masih tak mengerti.
“Kau seharusnya membunuhku dari tadi…bukankah aku musuhmu?”
Gadis itu menatapnya tajam.
“Dendam tak akan membuatku merasa lebih baik, kematianmu tidak akan pernah bisa membayar apapun. Pergilah ..katakan pada duniamu, perang tak akan membawa kemenangan, selain hanya rasa sakit atas kehancuran dan kehilangan.”
Dan sang gadis pun melangkah pergi.

-Tamat-


-         waktu cari-cari gambar yang pas untuk cerita ini, jujur aja, ada perasaaan miris. Setiap kali mau –klik- next page, dalam hati aku berdoa semoga tidak mendapatkan gambar yang terlalu mengerikan (ternyata aku harus berkali-kali menahan nafas saat melihat gambar-gambar itu).
-         Cerita ini hanya fiksi, wujud keprihatinan atas satu kata pendek yang menyimpan berbagai rasa sakit di dalamnya “PERANG”.


Sabtu, 24 November 2012

Aku Seorang Pelacur




Aku seorang pelacur. Yah, ini sebutan untukku. Mungkin untuk para pria apa yang terbayang dalam benak mereka tentangku adalah: pelepasan hasrat, kenikmatan sesaat, keliaran, sesuatu yang terbayar dengan beberapa lembar uang. Dan bagi para wanita (baik-baik) kata pelacur mungkin akan menimbulkan “kebencian”, rasa jijik, penyakit, penghianatan, kasta terendah dalam norma kewanitaan. Terserahlah, setiap orang punya hak untuk menilai, tapi inilah kenyataannya, inilah hidupku, peran yang mungkin harus aku jalani di dunia ini.
Aku juga manusia. Apakah ini terdengar berlebihan? Aku juga punya hati, perasaan dan pemikiran, disamping seonggok raga yang aku gunakan untuk melanjutkan hidup, sebagai “modal” dalam pekerjaanku. Sebenarnya tidak terlalu rumit, justru sangat sederhana, karena ini hanya menyangkut persoalan “perut”. Terdengar sebagai sebuah penyederhanaan, atau pembenaran? Pasti. Karena sebagai seorang manusia yang (pernah) belajar agama, aku pun cukup tahu  apa yang harus kubayar di akhirat nanti; dibakar di api neraka yang paling dasar, merasakan kesakitan yang teramat sangat terus menerus tanpa ada akhir. Tapi tak tahukah mereka bahwa apa yang aku jalani di dunia ini pun sudah terasa sebagai “neraka”? melakukan sesuatu yang dinilai sakral bagi sebagian orang yang bernorma, melalui proses yang bernama pernikahan, sebagai ukuran kesetiaan, dan juga mungkin yang menjadi batas antara sifat manusia dan binatang (yaitu bisa melepas hasrat nafsu tanpa hati, perasaan dan pikiran), tapi aku melakukannya sebagai suatu pekerjaan, sebagaimana penyapu jalan dengan sapu nya, sebagaimana pelukis dengan cat warna warni nya, sebagaimana tukang masak dengan pisau nya. Aku melakukan “pekerjaan” ini dengan tubuhku, ini hanya tentang daging dan lendir. Dan tak tahukah kalian bahwa seringkali itu juga terasa menyakitkan? Inilah “neraka”ku, merasakan kehampaan jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit itu sendiri.
Bila sebagian (orang yang beruntung) bisa memaknai aktifitas tempat tidur mereka sebagai pengungkapan rasa cinta dan kasih sayang, aku melakukan itu demi lembaran-lembaran uang yang berarti penyambung hidup esok hari dan sedikit simpanan buat sekolah Upik di kampung.
Ada sedikit beban yang terasa menggayut setiap aku mengingat wajah polos itu. Upik, tahun depan masuk Sekolah Dasar, aku harus lebih banyak menyisihkan uang, karena ingin memasukkannya ke sekolah bagus yang punya latar belakang pendidikan agama. Mungkin sebagian dari kalian tertawa mendengarnya, tak apa. Tapi apa salah bila seorang pelacur sepertiku tak pernah menginginkan anaknya akan menjalani kehidupan seperti yang aku jalani? aku ingin Upik jadi seseorang yang beragama, berbudi luhur, berakhlak baik. Bukan,…bukan agar kelak dia bisa menebus dosa-dosaku atas apa yang aku jalankan untuk menghidupi dan menyekolahkannya, biarlah dosa itu kutanggung sendiri. Ini tentang hidup Upik sendiri, aku hanya ingin dia menjadi “benar” di mata dunia.

Usiaku tiga puluh tahun, sudah cukup tua untuk profesiku ini. dengan semakin banyaknya gadis-gadis belasan tahun yang juga mengadu nasib di tempat ini, dengan kerutan-kerutan halus di wajah, aku tak tahu kenapa aku terlihat jauh lebih tua dari umurku. Mungkin karena sari pati ku yang telah habis dihisap para lelaki, atau karena dosa-dosa yang harus kutanggung? aku tak terlalu peduli, bagiku satu dua lelaki yang mau memakaiku dalam sehari sudah cukup, mereka juga tidak terlalu peduli dengan wajah saat di tempat tidur. Ini hanya tentang uang. Tolong jangan mencoba menceramahiku tentang mencari uang dengan halal dan benar. Aku telah mencobanya, dan semua tidak sesederhana sekian teori yang disodorkan oleh orang-orang pintar itu. Mereka sempat bisa menjejali otak kami para penjaja tubuh dengan mimpi hidup wajar dan normal sebagai pribadi yang bisa diterima masyarakat, tapi kenyataannya tak pernah sesederhana itu. Hidup seringkali jauh lebih rumit dari teori. Biarlah, ini kehidupan yang harus dijalani saat ini. Aku sendiri memilih rajin untuk menerima suntikan ini itu dan melakukan hal-hal menyangkut kebersihan tubuh seperti yang disarankan ibu dokter yang sesekali berkunjung. Inilah kehidupan “wajar” dan “normal” untuk ukuran orang-orang berpikiran pendek dan sederhana sepertiku.

Lama kupandangi bayangan di cermin itu. Terkadang aku butuh berbicara dengan diri sendiri seperti ini, sekedar menjaga “kewarasan” yang seringkali bergumul antara kehidupan nyata, ego sebagai manusia, dan keinginan menjadi “benar”. Kutunggu akan ada air yang menggenang di kedua mataku, seiring sesak yang mendesak saat sekali lagi kubisikkan nama “Upik”, tapi ternyata tidak. Aku telah cukup kuat menjalani, memahami, memaknai apa yang memang menjadi peranku saat ini. Bisa jadi karena hatiku telah mati, mengeras menjadi batu ditempa kenyataan.
Perlahan kupoles lipstik berwarna merah darah ke bibirku, ini saatnya memakai topeng kehidupan: tersenyum, sesekali tertawa genit, pandangan merajuk, rengekan manja (yang bahkan membuatku terasa ingin muntah saat melakukannya) tapi ini hanyalah sekedar topeng, yang akan segera kulepaskan saat kuhapus riasan di wajahku. Ini saatnya bekerja…

Temaram, bau menyengat minuman keras dan rokok, suara musik yang menghentak. Aku memilih menunggu di luar, di tempat yang mudah terlihat, semoga malam ini aku beruntung. Tiga hari yang lalu aku terpaksa “libur” karena rutinitas bulanan. Kuhisap dalam-dalam cigaretku, panas menjalar ke tenggorokan. Malam ini terasa lembab setelah bumi tersiram hujan sore tadi. Sudah hampir dua jam aku berdiri dan sesekali duduk atau menyandarkan tubuhku ke tembok, tapi belum ada yang mengajakku. Aku sedang tidak ingin bergenit-genit di dalam ruangan, bersaing dengan para gadis belasan tahun yang pasti jauh lebih mudah mendapat pelanggan.
“Marni…?” sebuah suara cukup mengejutkanku. Kutengadahkan wajah melihat siapa yang memanggil namaku. Aku merasa seperti pernah mengenalnya, tapi entah dimana aku belum bisa mengingatnya.
“Bener kamu Marni, kan…? Aku Bagyo, teman SMA mu dulu..”
“Owhh…yaaa..eh,…mmhh…aku agak lupa,..”
“Kita dulu pernah sekelas, tapi kamu tidak melanjutkan saat kenaikan kelas dua, aku ingat kamu pernah juara kelas waktu itu, tapi sayangnya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti” laki-laki itu tampak begitu antusias saat bercerita.
Apa yang diharapkannya dari cerita itu? Memberiku luka lama, atas ketidakberdayaan diri pada kenyataan? Aku terpaksa berhenti sekolah karena bapak mati jadi korban tabrak lari, dan aku punya tiga orang adik yang harus makan, terpaksa aku terima ajakan seorang tetangga untuk bekerja di kota.
“Aku tidak mengira dirimu punya ingatan yang begitu kuat, sampai bisa mengingatku sedetail itu..” kukatakan itu sangat pelan, bahkan aku hampir tidak bisa mendengar suaraku sendiri.
“Aku dulu pernah naksir kamu…” dia menyambung kalimatnya dengan tawa.
Terasa sedikit menyakitkan bagiku, entah mengapa? Karena dia melihatku sekarang seperti ini? sebagai seonggok raga yang bisa dia “beli” sewaktu-waktu?
“Apa kamu mau memakaiku?” kutatap wajahnya lekat, seiring rasa pahit yang terasa menguasai lidahku, mungkin karena rokok.
Dia balas menatap, tepat pada kedua mataku, lalu pandangannya mulai turun memandangi tubuh. Dia tersenyum sinis, menenggak botol bir di tangan kirinya, pandangannya masih tak lepas dari (tubuh)ku.
“Sebenarnya aku lebih suka yang masih muda, masih seger, kamu sudah tua, tapi demi masa lalu, bolehlah…” seringainya, sambil menarik tanganku.
Kugigit bibir bawahku, sambil terus berkata dalam hati, ini tentang pekerjaan, ini tentang uang, ini demi Upik. Ini hanya salah satu “neraka” yang harus aku lalui hari ini. Kalimat itu terus kuulang sampai menimbulkan gema dalam pikiranku, memenuhi otak, menelusuri darah dan tinggal dalam setiap sel di tubuhku.

Entah ini hari apa, seingatku sudah beberapa bulan sejak terakhir kali aku bertemu Bagyo. Kehidupanku berjalan seperti biasa, sangat biasa, masih seputaran hasrat para lelaki, topeng, dan terkadang “neraka” dalam bathin. Bulan depan aku berencana pulang menengok Upik sambil menitipkan uang untuk biaya sekolahnya pada Emak. Beberapa hari ini entah mengapa perasaanku terasa tidak enak, aku hanya merasa sangat ingin pulang.
Aku sudah bersiap untuk berangkat, sebentar kupatut diri di kaca. Kaos tanpa lengan, rok pendek jins, sepatu tumit tinggi, lengkap dengan riasan menor yang menjadi topengku. Lalu di depan pintu kulihat dua orang sosok yang kukenal.
“Paklek? Kenapa kesini…?” aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku, ditambah dengan sosok kecil disampingnya yang sedang menatapku tak berkedip.
“Aku mau mengantar Upik sekaligus memberi kabar buruk…” suara adik bungsu Emak itu terdengar bergetar.
“Emakmu meninggal seminggu yang lalu…..”
Hening.
Aku masih menunggu.
“Selama beberapa hari ini Upik tinggal bersamaku, tapi….bulekmu sepertinya agak keberatan dia tinggal di rumah. Adik-adikmu, aku juga tidak tau dimana, aku tahu keberadaanmu dari Bagyo, yang katanya bertemu kamu disini…”
Aku merasa kosong. Entah mengapa, aku menunggu rasa sedih itu akan menguasai diri, membuatku pingsan atau menangis meraung-raung mendengar semuanya, tapi ternyata tidak. Aku hanya tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Kualihkan pandanganku pada sosok disamping Paklek. Wajah polos dan lugunya yang selalu membuatku merasa kuat menjalani apapun di dunia ini. Dia masih menatapku lekat. Perlahan aku berjalan mendekatinya, merengkuh tubuh kecilnya dalam pelukanku. Tapi dia hanya diam tak bergeming. Dingin. Aku hanya mendengar dia berbisik perlahan.
“Kata orang-orang …ibu seorang pelacur”.
Aku merasa seperti jatuh ke dalam sebuah lobang hitam tanpa dasar. Tuhan, saat ini aku hanya ingin mati.

- Tamat -

Cicak dan Burung Kenari


Pagi yang cerah. Mentari menyinari setiap celah tanpa lelah. Di sebuah sudut rumah, tampak cicak dan burung kenari saling bercerita tentang harapan dan cita.

“Aku ingin punya sayap, seperti dirimu; jadi aku bisa terbang mengejar nyamuk-nyamuk gemuk, tidak harus menunggu saat mereka lengah dan mendekat ke dinding” ujar cicak pada burung kenari.

“Untuk apa punya sayap kalo tubuhmu terkurung dalam sangkar ini? kau masih beruntung bisa merayap dan melihat seluruh isi rumah, sedangkan aku? Pandanganku hanya sebatas halaman depan rumah ini.’

Sejenak cicak diam. Lalu berkata lagi.
“Tapi kau tetap lebih beruntung, dianugerahi tubuh indah dan manis seperti yang kau miliki, manusia begitu menyukai dan sayang pada dirimu, sedangkan aku? Kau tau mereka akan berteriak-teriak jijik setiap kali melihatku.”

Burung kenari menjawab:
“Justru karena tubuh indahku, aku terkurung dalam sangkar ini. Kau tak tau betapa sakitnya menyadari punya sayap tapi tak bisa terbang kemanapun, terpenjara karena ego manusia.”

Hening sejenak.
‘Tapi aku tetap ingin punya sayap..” bisik cicak.
“dan aku ingin kebebasan..” balas burung kenari.

Suatu hari, sang manusia lupa menutup sangkar burung kenari, cicak yang melihatnya pun, langsung berteriak:
“hai, burung cantik cepatlah keluar dari sangkarmu, pergilah melihat dunia luas, aku akan selalu menunggu ceritamu disini.”
Dengan tergesa burung kenari keluar dari sangkarnya, mengepakkan sayap, terbang menuju dunia luas. Dia tak sabar ingin merasakan berkicau di atas pepohonan, bermain dengan kupu-kupu, terbang menembus awan, menghirup udara kebebasan.

Satu hari, dua hari, seminggu telah berlalu, cicak masih menunggu, menanti cerita burung kenari tentang duia, tentang mimpi dan kebebasannya.
Hingga pada hari ke delapan mereka berpisah. Sore itu tiba-tiba cicak melihat burung kenari di sudut rumah, tampak kusut, lelah, bulu-bulunya kusam penuh debu, warnanya tak lagi kuning cerah, beberapa bagian tubuhnya tercabik dan sayap kirinya terlihat patah.

“Apa yang terjadi denganmu? Kau terlihat kacau..” ujar cicak dengan penuh keterkejutan.
Burung kenari diam sejenak, matanya tampak basah.
“sungguh aku menyesal meninggalkan sangkarku. Dunia luar ternyata begitu kejam, aku terlalu lama hidup nyaman dalam sangkar itu, dan tak pernah siap hidup liar hanya demi kata kebebasan”

Cicak menatap iba burung kenari.
“Dunia seringkali tak seindah imajinasi dan mimpi. Kau tau, seandainya aku punya sayap, aku tak pernah berniat meninggalkan rumah ini, aku ingin punya sayap hanya supaya lebih mudah menangkap nyamuk. Tapi kalo aku pikir lagi, tak punya sayap pun aku masih bisa makan cukup, hanya dengan sabar menanti naymuk-nyamuk yang lelah terbang menempel ke dinding dan aku akan menangkapnya. Kini aku baru menyadari apalah arti mimpi jika pada akhirnya hanya akan menyakiti diri sendiri.

Perlahan cicak melihat tubuh burung kenari semakin lemah, napasnya tinggal satu satu, lalu tak lama kemudian tampak tak bergerak lagi. Kaku. Burung kecil itu telah mati. Tak lama kemudian terlihat iring-iringan semut mulai mendekati bangkai burung itu. Mereka mulai merubung, menikmati, menjalankan tugasnya dalam rangkaian proses rantai kehidupan.

Cicak merenung. Hidup ini memang tentang peran.


Sabtu, 17 November 2012

Dolly, Rempeyek dan Pak Hery



Siang itu hari Jum’at, diluar panas tampak begitu menyengat, dan saya menikmati dinginnya AC kantor, tanpa peluh tapi penuh keluh di kepala. Hari itu saya merasa sangat malas dan sibuk dengan pikiran-pikiran tidak penting yang memenuhi otak. Tiba –tiba diluar saya melihat satpam tampak sedang berbicara agak keras pada seseorang, menjelaskan ini itu (dan saya sedang tidak merasa tertarik untuk tahu).
Tak lama kemudian, masuklah seseorang. Tubuhnya kecil, tingginya tidak melebihi pinggang saya. Kurus, hitam legam. Entahlah saat melihat pertama kali, dirinya mengingatkan saya pada penggambaran (maaf) sosok jin (dalam buku “Berdialog dengan Jin”) telinganya sedikit meruncing. Jemari kaki dan tangannya besar, tampak tidak proporsional dengan tubuhnya yang kerdil.
Dia tersenyum, saya perhatikan lebih mendetail, secara penampilan, sebenarnya dia cukup bersih dan rapi. Rambutnya tersisir licin ke belakang, bajunya (kemeja yang warnanya mulai pudar) dimasukkan ke dalam celana panjangnya.

“Saya mau tanya soal tabungan dan deposito, bu..” katanya sambil tersenyum, beberapa giginya tampak sudah tanggal.

Don’t judge a book from the cover, kalimat itu sudah saya baca dan dengar ratusan kali selama hidup saya, tapi sungguh tak mudah saat harus memaknainya saat itu. Teori jauh lebih mudah daripada praktek. Satu yang ada dipikiran saya saat itu “apa dia waras?” –benar kan? Saya menilai pria kecil ini masih sebatas apa yang saya lihat.
Tapi saya punya tugas disini, baiklah akan saya jalankan sesuai standar layanan (seadanya). Saat saya menjelaskan ini itu, dia tampak mengangguk-angguk, entah mengerti atau justru bingung dengan penjelasan saya. Sesekali dia protes soal suku bunga yang rendah, dalam beberapa hal saya merasa dia cukup memahami apa yang saya sampaikan –berarti dia tidak gila atau kurang “pintar”-, secara umum dia normal menyangkut pemikiran, sejujurnya hati kecil saya harus mengakui hal itu, tapi masih saja saya terjebak dalam penilaian menyangkut sosoknya.
Setelah tampak puas dengan apa yang saya sampaikan, dia pun berpamitan. Fiuh,…. ternyata benar dia hanya sekedar bertanya, bathin saya. Lalu saya pun bersiap untuk makan siang (ini jam istirahat dan saya benar-benar tidak mau terlambat).

Saya belum menyelesaikan makan bekal siang, ketika satpam memberitahu bahwa bapak kecil tadi kembali. Dengan bersungut-sungut saya bilang pada satpam “suruh tunggu aja deh, paling bentar lagi dia bakal pulang”. Dan satpam mengangguk. Saya berniat sedikit berlama-lama istirahat (bukankah saya punya hak atas itu?) tapi lagi-lagi hati kecil saya seakan protes dan mengatakan; kamu punya tugas untuk dikerjakan, please..jangan childish!!
Saya pun kembali ke meja kerja (masih setengah hati).
Bapak kecil itu sudah duduk manis sambil memegang bungkusan plastik berwarna hitam. Saat melihat saya, dia berdiri, tersenyum (lagi) kemudian mengeluarkan sesuatu yang dibungkus koran dari dalam kantong plastiknya.


“Saya jadi nabung, bu…” dia mengatakan itu sambil membuka bungkusan koran yang didalamnya ternyata berisi bungkusan2 yang lebih kecil. Ada beberapa tumpuk bungkusan kecil di depan mata saya, dan saya masih bingung harus mengatakan apa.

“ohya, maaf uangnya saya bungkus seperti ini, masing-masing isinya satu jutaan..” katanya seakan mengerti dengan tatapan saya.

“saya mau deposito saja bu, gak tahu jumlahnya berapa, nanti ibu hitung saja, kira-kira sekitar empat puluh jutaan”

Setelah beberapa saat saya bisa menguasai diri (dan merutuki diri atas pemikiran “jahat” saya tadi). Saya mulai melakukan tugas, membukakan rekening untuk bapak kecil itu.

“Bapak kerja dimana?” tanya saya mencairkan suasana, sekaligus berusaha menebus sikap saya sebelumnya.
“Saya kerja di Dolly, bu….” Saya agak tersentak dengan nama tempat pusat “lendir” terbesar di Asia Tengara itu.
“Kerja apa, pak?” tanya saya lagi semakin ingin tahu.
“Jualan rempeyek, bu…” jawabnya polos, sekali lagi sambil tersenyum.
“Hasilnya lumayan, bu..tapi sayangnya sebentar lagi Dolly kan mau ditutup sama pemerintah, ‘cewek-ceweknya’ dikasih pesangon”.
Sejenak saya menghentikan aktifitas membuka bungkusan-bungkusan kecil (yang ternyata benar berisi uang lembaran ratusan dan lima puluh ribuan). Jumlah seluruhnya mencapai empat puluh enam juta.
“Bu, ini sampahnya biar saya yang buang, maaf jadi bikin kotor….”
“Loh, gak usah pak, nanti ada yang mbersihkan kok..”
Dia menatap saya, seakan berusaha mencari kesungguhan atas kalimat saya.
Saya tersenyum, entahlah tiba-tiba saya menyukai kepolosan laki-laki kecil ini.
Ohya, namanya Pak Hery. Dia bercerita panjang lebar tentang “profesi”nya yang selain berjualan rempeyek dia juga terkadang juga memijat orang-orang di Dolly. Dia juga bercerita “sedikit” tentang para wanita di Dolly, pelanggannya, cara-cara yang digunakan untuk membuat para pelanggan ‘bertahan” dengan diselipin candaan ringan, saya harus akui pak Hery punya sisi menarik menyangkut caranya bercerita, begitu ringan, begitu lepas, polos, lugu tapi juga terlihat bahwa dia seorang pekerja keras.

“Berapa lama bapak mengumpulkan uang sebanyak ini, pak…?” tanya saya (sangat) ingin tahu.
“Lama, bu, sekitar empat tahunan.”
“selama ini uangnya disimpen dimana, pak?”
“saya punya tempat penyimpanan khusus yang cuman saya sendiri yang tahu. Istri saya sudah meninggal, anak saya dua. Tapi mereka juga gak tahu kalo saya punya uang ini. nanti kalo saya meninggal uangnya bisa diurus buat anak saya kan? Ga pake ke pengadilan-pengadilan gitu kan, Bu” kalimat-kalimatnya begitu polos.
“Bisa kok, pak..ga usah kuatir. Daripada uangnya disimpan di rumah kan malah gak aman pak, bisa rusak juga lho.”
“iyya, bu..makanya saya kasih kapur barus di tempat simpan uangnya bu, biar gak dimakan rayap. Saya juga kuatir kalo lama disimpan nanti bisa gak laku kalo ganti uang yang baru.”
Saya tersenyum (untuk kali ini dengan tulus).
“saya bener-bener susah kalo Dolly jadi ditutup, bu..” mukanya kali ini terlihat sedikit muram.
Kan bapak bisa jualan rempeyek ditempat lain..” saya (berusaha) menghibur.
“Tapi gak bisa dapat banyak kayak di Dolly, bu.. sehari saya bisa dapat seratus sampe dua ratus ribu, kemaren malah saya habis dapat rejeki dari orang kapal. Tapi ya sudahlah, rejeki kan sudah ada yang ngatur..” kalimatnya terlihat tulus.

Tak ada yang kebetulan di dunia ini, saya mempercayainya. Mungkin hari itu saya dipertemukan dengan pak Hery, agar saya bercermin atas kekerdilan jiwa dan pikiran saya. Agar saya belajar tentang semangat dan ketulusan dan memahami lebih dalam tentang menilai seseorang tidak hanya dari penampilan luar saja.
Dan diam-diam di sudut hati saya berbisik: Semoga Dolly tidak jadi ditutup, agar pak Hery masih bisa mengais rejeki dari sana, agar lebih banyak orang yang belajar dari dunia yang dikatakan penuh dosa, tapi menyimpan begitu banyak asa dan bahagia yang sederhana. Amien.