Minggu, 12 Oktober 2014
Rabu, 14 Mei 2014
My Sensitive's Day
Mmmh.., pagi yang ringan dan (sebenarnya) saya hanya ingin berpikir
tentang hal-hal ringan, bukan analisa, logika, bahkan filosofi yang paling
sederhana. Menikmati sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, menghirup
udara yang masih berbau embun pagi bercampur debu yang belum terlalu
pekat. Lalu saya mulai berusaha menerima apapun yang terlihat kasat
mata.
Seorang ibu memakai daster lusuh, wajahnya tampak kosong menanti di pinggir jalan. Gadis muda yang wajahnya penuh bekas jerawat, sibuk dengan telepon selularnya. Bapak-bapak paruh baya yang tampak lelah, kantung matanya terlihat sangat jelas. Seseorang yang sudah tampak berumur, tapi masih memakai seragam sekolah sedang bergumam sendiri sambil menghitung kendaraan yang berlalu lalang. Wanita hamil, yang sekali-kali mengelus perutnya, entah mengapa dimata saya dia tampak cantik sekali.
Ada beberapa wajah yang terekam, berusaha saya terima sebagaimana adanya mereka. Tapi seperti biasa, pikiran saya mulai tergelitik untuk mengimajinasi mereka dalam versi "saya"; tentang bagaimana kehidupan mereka, tentang apa yang ada dalam pikirannya, tentang bagaimana mereka memandang dunia. Sebenarnya saya ingin bercerita panjang lebar disini, tapi saya khawatir hal itu akan terasa membosankan dengan beberapa halaman yang bisa saya tuliskan tentang "mereka dalam versi saya".
Justru yang muncul sekarang adalah sebuah kalimat besar yang tergantung dalam pemikiran:
"Setiap orang punya kehidupannya masing-masing"
Apapun yang saya pikirkankan ataupun analisa, tak akan merubah apapun dalam kehidupan nyata mereka.
"Setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri"
Kalimat ini justru yang terasa menohok saya. Sebuah kalimat yang memaksa saya untuk berkaca.
Tanpa sadar seringkali kita menyalahkan keadaan dan orang lain disekitar kita atas apa-apa yang kita alami (bahkan yang kita rasakan).
Kita menyalahkan sistem perusahaan, pimpinan di kantor, suami, istri, anak, teman-teman atas "ketidakbahagiaan". Kita sibuk menghitung kesalahan mereka, tanpa mau berusaha mencari dalam diri sendiri, apa sebenarnya yang membuat segala sesuatunya "tampak salah"?
Benarkah mereka yang bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kita rasakan? Yakinkah kita benar-benar memahami jalan pikiran mereka? Atau itu hanya sekedar analisa kita sendiri atas "niat" baik atau buruk mereka? Mampukan kita mengendalikan segala apa yang seharusnya mereka pikirkan atau lakukan untuk kita.
Jawabannya adalah jelas: TIDAK
Kita tidak pernah bisa (benar-benar) mengerti jalan pikiran, niat, bahkan tindakan, apalagi menyuruh mereka (orang lain) untuk berpikir, bersikap dan bertindak seperti apa yang kita mau.
Apa yang (paling) bisa kita lakukan adalah: mengendalikan diri kita sendiri, menyangkut pemikiran, sikap, tindakan, meyakini tentang "kebenaran" kita sendiri, dan biarkan orang lain mengukur dan menilainya, karena itu hak mereka sepenuhnya.
Mungkin sebaiknya saya cukupkan saja tulisan saya ini sampai disini, silahkan pahami sendiri, saya pun sedang dalam proses untuk (berusaha) memahami, mengurai dan tidak memperumit pemikiran. Karena, hal sederhana untuk memulai semua itu adalah:
"Maaf kan dirimu sendiri"
Sebuah catatan pagi, 14 Mei 2014
*Especially for Yusti
*Backsound: "Let it go" - Demi Lovatto (ost: Frozen)
Seorang ibu memakai daster lusuh, wajahnya tampak kosong menanti di pinggir jalan. Gadis muda yang wajahnya penuh bekas jerawat, sibuk dengan telepon selularnya. Bapak-bapak paruh baya yang tampak lelah, kantung matanya terlihat sangat jelas. Seseorang yang sudah tampak berumur, tapi masih memakai seragam sekolah sedang bergumam sendiri sambil menghitung kendaraan yang berlalu lalang. Wanita hamil, yang sekali-kali mengelus perutnya, entah mengapa dimata saya dia tampak cantik sekali.
Ada beberapa wajah yang terekam, berusaha saya terima sebagaimana adanya mereka. Tapi seperti biasa, pikiran saya mulai tergelitik untuk mengimajinasi mereka dalam versi "saya"; tentang bagaimana kehidupan mereka, tentang apa yang ada dalam pikirannya, tentang bagaimana mereka memandang dunia. Sebenarnya saya ingin bercerita panjang lebar disini, tapi saya khawatir hal itu akan terasa membosankan dengan beberapa halaman yang bisa saya tuliskan tentang "mereka dalam versi saya".
Justru yang muncul sekarang adalah sebuah kalimat besar yang tergantung dalam pemikiran:
"Setiap orang punya kehidupannya masing-masing"
Apapun yang saya pikirkankan ataupun analisa, tak akan merubah apapun dalam kehidupan nyata mereka.
"Setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri"
Kalimat ini justru yang terasa menohok saya. Sebuah kalimat yang memaksa saya untuk berkaca.
Tanpa sadar seringkali kita menyalahkan keadaan dan orang lain disekitar kita atas apa-apa yang kita alami (bahkan yang kita rasakan).
Kita menyalahkan sistem perusahaan, pimpinan di kantor, suami, istri, anak, teman-teman atas "ketidakbahagiaan". Kita sibuk menghitung kesalahan mereka, tanpa mau berusaha mencari dalam diri sendiri, apa sebenarnya yang membuat segala sesuatunya "tampak salah"?
Benarkah mereka yang bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kita rasakan? Yakinkah kita benar-benar memahami jalan pikiran mereka? Atau itu hanya sekedar analisa kita sendiri atas "niat" baik atau buruk mereka? Mampukan kita mengendalikan segala apa yang seharusnya mereka pikirkan atau lakukan untuk kita.
Jawabannya adalah jelas: TIDAK
Kita tidak pernah bisa (benar-benar) mengerti jalan pikiran, niat, bahkan tindakan, apalagi menyuruh mereka (orang lain) untuk berpikir, bersikap dan bertindak seperti apa yang kita mau.
Apa yang (paling) bisa kita lakukan adalah: mengendalikan diri kita sendiri, menyangkut pemikiran, sikap, tindakan, meyakini tentang "kebenaran" kita sendiri, dan biarkan orang lain mengukur dan menilainya, karena itu hak mereka sepenuhnya.
Mungkin sebaiknya saya cukupkan saja tulisan saya ini sampai disini, silahkan pahami sendiri, saya pun sedang dalam proses untuk (berusaha) memahami, mengurai dan tidak memperumit pemikiran. Karena, hal sederhana untuk memulai semua itu adalah:
"Maaf kan dirimu sendiri"
Sebuah catatan pagi, 14 Mei 2014
*Especially for Yusti
*Backsound: "Let it go" - Demi Lovatto (ost: Frozen)
Selasa, 29 April 2014
MASA BEKU
Fiuh... ternyata sudah setahun saya mengalami kebekuan inspirasi, gersang ide, tapi mungkin lebih tepatnya, kemalasan yang lebih menguasai diri, untuk sejenak meluangkan waktu membiarkan jari jemari menari diatas keyboard. Saya juga heran, menguap kemana mood menulis saya selama ini. Padahal duluuuu, saya selalu punya waktu untuk sejenak bermain-main dengan imajinasi, merangkai kata untuk menjadikannya kalimat yang bisa dipahami sehingga apa yang saya lihat di "dunia mimpi" bisa terbayang dalam benak setiap pembaca. Padahal duluuu, saya selalu merasa "lebih baik" setelah menulis (apapun itu) setiap kali saya merasa sedang dalam kondisi "tidak baik". Tapi sekarang, entah mengapa, bahkan kondisi tidak baik, belum cukup mampu mendorong saya untuk menulis (lagi).
Sampai disini pun saya sudah mati ide... (benar-benar bencana). Apa yang telah terjadi dalam kehidupan saya belakangan ini? kenapa saya merasa kehilangan kunci untuk masuk ke dalam gerbang itu. Apa realita sudah sedemikian membelenggu?
Baiklah... saya mulai mencari-cari kambing hitam. Minimal ada yang bisa saya tuduh telah membuat kesenangan dalam menulis saya-mati suri.
Beberapa waktu terakhir ini, saya memang merasa lebih mengenal angka daripada kata-kata. Target, target, dan target. Bahwa kemampuan saya (dalam bekerja) benar-benar diukur dari deretan angka yang harus saya pelototi setiap hari dan membuat sakit hati di akhir bulan. Perlahan tanpa sadar, saya mulai mengukur orang lain dalam ukuran berapa jumlah digit dalam rekening mereka, lalu saya mulai merasa harus mengatur cara saya bersikap dan berbicara pada beberapa orang yang punya andil penting dalam perubahan angka2 di sistem (baca: target). Untuk sekian lama saya mampu menikmatinya, ini hal baru bagi saya.."belajar memakai topeng". Lalu semakin kesini saya mulai merasa lelah (dan jenuh). Saya capek dan mulai muak saat harus mengatakan YA..padahal dalam hati saya mengatakan TIDAK.
Saya sadar, dunia tidak sesederhana apa yang saya inginkan. Bahwa ada banyak hal diluar sana yang siap menerkam apabila kita lemah. Dan itulah kenyataan yang saya lihat, bagaimana beberapa orang begitu "termotivasi" untuk menjadi yang terbaik, lalu "merelakan" temannya untuk tercabik-cabik, bagaimana mereka sadar/tidak sadar membiarkan kakinya menginjak yag lain, agar tangannya bisa meraih apa yang menjadi ambisi pribadi.
Demi Tuhan, sebuah tamparan buat saya...saya tidak mau berubah menjadi seperti mereka. Menjadi seseorang yang membiarkan hati nuraninya mati. Menjadikan materi dan ambisi sebagai wujud "bahagia".
Saya masih ingin menjadi "manusia" bukan zombie berjalan karena hanya ada target di kepala. Mungkin ini adalah masa terbaik saya. Sebuah posisi yang begitu saya idamkan hingga saya (hampir) terbawa arusnya, tapi sekaligus mengingatkan saya bahwa "dunia" bukan segala2nya.
Sabtu, 27 April 2013
SEPASANG CINTA
Sang Wanita:
Aku mencintainya...
tak ada kalimat yang paling tepat menggambarkan segala perasaanku untuknya. Dia
laki-laki sempurna, dengan segala ambisi dan cita-citanya. Wajahnya selalu
penuh semangat saat bercerita tentang mimpinya. Dan aku akan selalu
mendengarkan dengan seksama, dalam setiap detail sambil sesekali membisikkan
doa-doa. Lalu dia akan meraih kepalaku, menciumi rambutku dan berbisik “I love
U...”. sebuah potongan kisah sempurna pada suatu masa dalam kehidupan.
Lalu tragedi itu
terjadi. Sebuah kecelakaan di suatu petang, merubah kehidupanku. Seperti cat
hitam yang tertuang begitu saja diatas lukisan sempurna sebuah rumah dengan
langitnya yang berpelangi. Hitam... Pekat..
Sebagian tulang
belakangnya remuk, menyebabkan beberapa syarafnya tak berfungsi. Dia lumpuh.
Sosok tegapnya kini tertunduk lesu pada sebuah kursi roda.
Tak ada yang
berubah pada hati dan perasaanku. Aku masih sangat mencintainya, sama seperti
sebelumnya, apapun keadaan dirinya kini, perasaan itu tak berkurang sedikitpun.
Seringkali pada
tidur malamnya, dia tiba-tiba terbangun, dengan tubuh basah oleh keringat dan
nafas yang terburu, lalu mengeluhkan rasa nyeri di punggung belakang dan kedua
kakinya. Aku seringkali tak tau harus berbuat apa saat melihatnya seperti itu.
Hanya bisa memeluknya, sambil merasakan airmata yang perlahan menetes di
pipiku. Aku tak mau dia melihatku dalam kesedihan, aku takut itu hanya akan
menyakitinya.
Awalnya dia masih
“bisa” mengucapkan kalimat pendek, tapi kemudian hanya satu, dua patah kata dan
sekarang dia hanya diam, seringkali wajahnya tanpa ekspresi. Sesekali terdengar
suara “hemm...” dari mulutnya, tapi itupun sangat jarang.
Aku tau sebenarnya
tak ada masalah dengan organ-organ tubuh untuk berkomunikasi pada dirinya.
Dokter sangat yakin saat mengatakan itu. Lalu aku mulai menyadari, bahwa
mungkin dirinya hanya merasa kecewa. Marah pada dunia, atau lebih tepat mungkin
pada takdirnya.
Jadi setiap sore
aku mengajaknya berjalan di taman, menikmati udara segar dan pepohonan. Sambil
mendorong kursi rodanya, aku bercerita tentang apa saja. Aku tau dia
mendengarkan, dia hanya “tidak mau” memberi respon atas apapun yang aku
katakan.
Lalu kami berdua
berteduh di sebuah pohon rindang, tempat favorit kita dulu. Terkadang aku
membawakan beberapa potong kue kesukaannya, menyuapinya sambil terus bercerita
dan memandangi kedua matanya.
Lain waktu aku
hanya duduk dekat kakinya, mengelus punggung tangannya, memainkan jemarinya,
lalu merebahkan kepalaku di pangkuannya. Seringkali aku berharap, dia akan
membelai rambutku seperti dulu. Tapi dia hanya diam.
Tak apa, semua yang
kulakukan hanya ingin agar dia mampu merasakan bahwa aku mencintainya, apapun
keadaannya, karena bagiku, cinta sudah cukup memenuhi untuk cinta itu sendiri.
Sang Pria:
Aku jatuh cinta sejak
pertama kali melihatnya. Tak ada alasan untuk aku tidak jatuh cinta padanya.
Senyumnya, sepasang matanya yang berbinar setiap kali bercerita, gayanya saat
berusaha merajuk, tertawa, bahkan saat marah, semua itu cukup membuatku
berdebar dan “hidup”. Aku merasa begitu
lengkap sebagai laki-laki saat berada di dekatnya. Aku sanggup melakukan apa
saja demi dirinya.
Kususun semua mimpi
dan harapan setinggi mungkin, demi dia. Segala hal untuk dirinya.
Lalu tragedi itu
terjadi.
Hidupku berubah
karena kecelakaan itu. Tak pernah terbayangkan, diriku akan menjadi sesosok tak
berguna di kursi roda.
Bagaimana aku bisa
melindungi dirinya? Sedangkan untuk menolong diri sendiri aku tak mampu? Dan
sungguh, ini sangat menyakitkan. Jauh lebih sakit dari apapun yang kurasakan
secara fisik.
Aku mencintainya.
Kalimat itu
sekarang tak berarti apa-apa, hanya sebuah harapan kosong, bahwa aku mampu
mendampingi dia sampai renta, menjaganya dari apapun yang bisa menyakitinya,
memberikan segala apa yang diinginkannya, mewujudkan sebuah dunia indah tanpa
cela, selayaknya dirinya bagiku.
Dan lihat, betapa
bodohnya dia dengan segala apa yang dilakukannya untukku. Apa dia tak bisa
melihat dengan jelas keadaanku sekarang. Sungguh dia telah buta oleh rasa belas
kasihan. Tak bisakah dia berpikir lebih rasional, apa yang diharapkannya pada
laki-laki cacat sepertiku?
Sampai kapan pun aku hanya akan menjadi
bebannya.
Ketidakberdayaan
ini seakan justru membangkitkan segala aura negatif dalam diriku. Aku menjadi
begitu pemarah sekaligus pencemburu, dadaku bergemuruh, nafasku sesak dan
hatiku diliputi perasaan takut kehilangan, setiap kali dia berbicara dengan
dokter itu. Bukan.. bukan hanya dokter itu, aku cemburu pada semua orang yang
berada didekatnya, yang selalu memandangnya dengan sayang, berusaha meyakinkan
dirinya untuk menguatkan. Dan setiap kali itu terjadi aku merasa hanya sebagai
seonggok sampah yang harus dia bawa-bawa kemana pun dia pergi. Aku benci diriku
sendiri.
Lalu aku berusaha
agar dia membenciku. Aku tak mau bicara dengannya, aku berusaha tidak peduli
dengan segala apa yang dilakukannya. Mungkin itu jauh lebih baik untuk dirinya.
Aku tak ingin melihatnya bersedih. Tapi justru aku orang yang paling sering
membuatnya menangis karena ketidakberdayaanku.
Tolong singkirkan
aku dari hidupmu, karena aku tak mempu melihatmu dalam kesedihan.
Itu kalimat yang
ingin kuteriakkan padanya, tapi selalu tercekat dalam tenggorokanku. Aku tak
pernah merasa mampu melakukannya..
Aku
ingin dia membenciku, karena aku merasa cintaku hanya akan menyakitinya. Karena bagiku, cinta tak akan punya arti bila tak lagi bisa saling mengisi.
-
Tamat -
Jumat, 19 April 2013
RADJA DAN AKU
Wanita diukur dari
kesetiaannya, Nduk...
kalimat itu terngiang. Kutatap bayangan di cermin. Menelusuri setiap detail dari apa yang terpantul. Ada beberapa kerut halus di sudut mata, garis senyumku juga mulai terlukis nyata. Kuraih sisir kayu yang tergeletak di meja, lalu mulai menyisir helai demi helai rambutku. Sudah saatnya aku mewarnai rambut lagi, bathinku. Kutemukan beberapa helai putih di dekat telinga kanan.
kalimat itu terngiang. Kutatap bayangan di cermin. Menelusuri setiap detail dari apa yang terpantul. Ada beberapa kerut halus di sudut mata, garis senyumku juga mulai terlukis nyata. Kuraih sisir kayu yang tergeletak di meja, lalu mulai menyisir helai demi helai rambutku. Sudah saatnya aku mewarnai rambut lagi, bathinku. Kutemukan beberapa helai putih di dekat telinga kanan.
Kamu tau apa arti
setia itu?..
kembali suara itu mengisi kepalaku.
kembali suara itu mengisi kepalaku.
“Eyang buyut telah
menjanda sejak usia dua puluh tujuh tahun, dan sampai usia hampir tujuh puluh
tahun, eyang tidak pernah bisa menggantikan posisi Romo Buyutmu dengan
laki-laki lain.”
Aku menghela nafas,
berusaha melegakan sesuatu yang tiba-tiba terasa mencekat tenggorokan.
Eyang buyut, nenek
dan seorang budhe ku, para wanita yang memutuskan menjaga kesetiaan pada
pasangannya bahkan sampai saat maut memisahkan. Mereka memilih untuk menjanda
selama sisa hidupnya; tidak ada yang bisa menggantikan posisi, Romo buyut, kakek
juga pakdhe, itulah bentuk kesetiaan mereka, menjaga kesakralan janji setia
bahkan saat harus menjalani kehidupan ini “sendiri”.
Aku beranjak dari
meja rias, berjalan menuju sisi ranjang.
Termenung, berusaha menganalisa apa yang ada dalam kepala. Kuedarkan
pandangan menyapu seluruh ruang kamar, dan terhenti pada meja ukir di sudut
ruangan, disana berjajar beberapa foto dalam bingkai-bingkai berwarna hitam dan
perak. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa begitu kosong. Sebuah kehampaan yang
menyelimuti saat memandangi foto-foto
itu. Satu diantaranya saat pernikahanku, beberapa lagi foto-foto saat berlibur
di beberapa tempat. Kesemuanya hanya berisi kami berdua, aku dan Radja; suamiku.
Kembali sebuah desakan terasa menohok dadaku.
Tidak...saat ini aku tidak akan menangis, aku harus berpikir secara rasional untuk mampu mengambil sebuah keputusan, atau justru keputusan ini harusnya aku ambil dengan mempertimbangkan perasaan terdalam? Tanyaku pada diri sendiri. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis suara-suara yang kembali memenuhi kepalaku.
Tidak...saat ini aku tidak akan menangis, aku harus berpikir secara rasional untuk mampu mengambil sebuah keputusan, atau justru keputusan ini harusnya aku ambil dengan mempertimbangkan perasaan terdalam? Tanyaku pada diri sendiri. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis suara-suara yang kembali memenuhi kepalaku.
Apa yang sebenarnya
yang aku cari dalam hidup ini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kebahagiaan, bisikku pada diri sendiri.. Sebuah jawaban bias, sebuah suara lain dalam kepala menyalahkan, itu jawaban umum dari semua orang. Kebahagiaan sebuah kata yang membutuhkan penjelasan, perwujudan, hal yang lebih nyata dari sekedar suatu perasaan yang tak terukur. Aku mencintai Radja, sangat mencintainya, sepenuh hati, jiwa dan ragaku. mungkin dalam beberapa hal aku begitu menjunjung konsep tentang wanita jawa, “garwo” (sigaraning nyowo) yang artinya separuh nyawa dari pasangan. Begitulah aku menyadari keberadaanku sebagai wanita. Itulah bentuk nyata dari kata “bahagia” ku selama ini. Dan kini aku mempertanyakan tentang konsep bahagia itu sendiri. Kebahagiaan-ku, terdengar sedikit egois, karena kini aku jadi berpikir bahwa kebahagiaan suamiku, (mungkin) lebih penting dari kebahagiaanku sendiri. Benarkah? Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, tiba-tiba aku merasa begitu lelah. Lelah dengan segala konsep, teori dan filosofi yang berusaha aku jejalkan dalam kepala.
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kebahagiaan, bisikku pada diri sendiri.. Sebuah jawaban bias, sebuah suara lain dalam kepala menyalahkan, itu jawaban umum dari semua orang. Kebahagiaan sebuah kata yang membutuhkan penjelasan, perwujudan, hal yang lebih nyata dari sekedar suatu perasaan yang tak terukur. Aku mencintai Radja, sangat mencintainya, sepenuh hati, jiwa dan ragaku. mungkin dalam beberapa hal aku begitu menjunjung konsep tentang wanita jawa, “garwo” (sigaraning nyowo) yang artinya separuh nyawa dari pasangan. Begitulah aku menyadari keberadaanku sebagai wanita. Itulah bentuk nyata dari kata “bahagia” ku selama ini. Dan kini aku mempertanyakan tentang konsep bahagia itu sendiri. Kebahagiaan-ku, terdengar sedikit egois, karena kini aku jadi berpikir bahwa kebahagiaan suamiku, (mungkin) lebih penting dari kebahagiaanku sendiri. Benarkah? Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, tiba-tiba aku merasa begitu lelah. Lelah dengan segala konsep, teori dan filosofi yang berusaha aku jejalkan dalam kepala.
Karena kamu wanita,
maka kesetiaan begitu penting, itu konsep sederhana yang kupahami. Lalu
bagaimana dengan laki-laki? Mengapa kata kesetiaan tidak terlalu menjadi
“beban” bagi mereka? Tiba-tiba saja aku merasa iri dengan Hawa. Dia yang
tercipta “hanya” untuk mendampingi Adam,
tak perlu merasa khawatir bahwa cintanya
akan dibagi pada perempuan lain. Takdir telah menuliskan bahwa mereka menjadi
pasangan. Meyakini bahwa tulang rusuk Adam yang hilang, terwujud dalam sosok
Hawa. Yah, karena takdir, telah begitu “baik” bagi mereka. Takdir? Bahkan aku
kini mempermasalahkan takdir, apa hakku untuk mempertanyakan hal itu? Takdirku
adalah sebagai seorang wanita, yang
telah menikah selama lima belas tahun dengan laki-laki yang dicintai sepenuh
hati, dengan sebuah kenyataan bahwa aku tidak mampu memberikan keturunan.
Dengan keadaan itu, apakah aku masih punya hak untuk menuntut “kesetiaan” dari
laki-laki yang aku cintai. Bahwa ternyata ketulusan dan kesetiaan, tidak cukup
mampu membayar kebahagiaan suamiku. Airmata
itu tak mampu aku bendung lagi, mengalir begitu saja dari kedua mataku, dan
dalam hati aku berharap tangisan ini akan mampu membasahi hatiku yang terasa
kering.
“Ijinkan aku
menikah lagi...”
kalimat pendek itu ternyata mampu membawa efek dahsyat bagi duniaku saat itu. Dalam beberapa detik aku merasa langit runtuh menimpaku. Kutatap wajah Radja lekat-lekat. Mencari kedalam matanya, benarkah itu yang baru saja diucapkannya? Kuraih cangkir teh dihadapanku, meminumnya seteguk dan merasakan duri-duri kecil seakan menusuki tenggorokan. Kuhela nafas panjang, memberi ruang lebih banyak pada oksigen memenuhi paru-paru. Susah payah kucoba mengukir sebuah senyum di wajah. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapannya.
kalimat pendek itu ternyata mampu membawa efek dahsyat bagi duniaku saat itu. Dalam beberapa detik aku merasa langit runtuh menimpaku. Kutatap wajah Radja lekat-lekat. Mencari kedalam matanya, benarkah itu yang baru saja diucapkannya? Kuraih cangkir teh dihadapanku, meminumnya seteguk dan merasakan duri-duri kecil seakan menusuki tenggorokan. Kuhela nafas panjang, memberi ruang lebih banyak pada oksigen memenuhi paru-paru. Susah payah kucoba mengukir sebuah senyum di wajah. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapannya.
“Aku mencintaimu
sepenuh hati, Nayla... tidak akan ada seorang pun yang akan bisa menggantikan
posisimu dalam hatiku..tapi...”
“Aku tau dan tak
perlu penjelasan...” potongku cepat. Aku tidak mau mendengar kalimat yang lebih
menyakitkan lagi.
“Maafkan aku...”
tiba-tiba Radja telah duduk bersimpuh, dan memegang erat-erat kedua telapak tanganku. Kepalanya tertunduk sambil menciumi jemariku, kurasakan airmatanya membasahi punggung tanganku. Kuusap lembut rambutnya. Dia seperti anak kecil yang menangis karena telah kehilangan mainannya.
tiba-tiba Radja telah duduk bersimpuh, dan memegang erat-erat kedua telapak tanganku. Kepalanya tertunduk sambil menciumi jemariku, kurasakan airmatanya membasahi punggung tanganku. Kuusap lembut rambutnya. Dia seperti anak kecil yang menangis karena telah kehilangan mainannya.
“Beri aku waktu
untuk berpikir...” akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibirku.
Hening.
Masing-masing dari kami larut dalam pikiran sendiri.
“Kamu tau bahwa orang tuaku yang ingin agar...aku...tapi,
sebenarnya...”
Aku hanya diam,
menunggu apapun yang akan dikatakannya lagi. Tapi ternyata dia tidak mampu
meneruskan kalimatnya. Kami kembali tenggelam dalam sepi.
Hari-hari
selanjutnya adalah kesepian yang sebenarnya. Aku meminta waktu “sendiri”.
Sebenarnya aku berharap Radja membiarkanku untuk pergi dari rumah sementara
waktu, untuk menenangkan pikiran. Tapi dia tak mau itu. Dia memilih untuk
dirinya yang sementara pergi, entah kemana, mungkin ke rumah orang tua, atau
justru ke rumah “calon mempelainya”. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis
pemikiran yang terasa menyakiti diriku sendiri.
Dan tinggal sendiri
di rumah, justru semacam “hukuman” bagiku.
Segala hal yang ada di rumah ini, hanya semakin mengingatkanku pada
kebersamaan bersama Radja. Seringkali saat tak tahu apa yang harus kulakukan
untuk menghabiskan waktu, kukeluarkan semua baju-bajunya dari dalam lemari,
lalu kusetrika kembali satu persatu. Menelusuri setiap bagian dari pakaiannya,
sambil membayangkan momen-momen saat dia memakainya, terkadang kuciumi sambil
berharap ada sisa bau tubuhnya yang tertinggal disana. Dan kenyataan
selanjutnya adalah rasa sesak yang semakin membuncah dan mengalirkan airmata,
lalu aku hanya terduduk sendiri disudut ruangan sambil menangis tersedu-sedu.
Sarapan pagi ini,
kembali aku tercenung sendiri. Hanya denting suara sendok saat mengaduk kopi
yang mengisi kekosongan. Kuoles perlahan selembar roti dengan mentega. Kenangan
itu berkelebat begitu saja. Radja tidak suka saat aku mengoles lembar rotinya dengan
terlalu banyak mentega, aku sudah tau pasti takaran untuk mentega, selai atau
seberapa kering aku harus memanggangnya. Aku selalu menyukai segala detail yang
harus aku lakukan untuk melayaninya. Kini yang terasa sangat menyakitkan bahwa
segala cinta dan perasaan yang kumiliki harus dihargai “hanya” sebatas rahimku. Laki-laki mungkin memang tercipta untuk
selalu dimengerti dan wanita harus berusaha selalu mengerti, seberapapun
pahitnya itu. Aku tak tau mana yang lebih mengerikan, hidup dalam kesendirian
dan kesepian selama sisa hidup ataukah membayarnya dengan segala
ketidaknyamanan atas ego dan kecemburuan? Tak ada yang lebih baik dari
keduanya.
Kami duduk berdua,
saling berhadapan. Radja tampak jauh lebih kurus dari saat terakhir aku
melihatnya. Matanya tampak cekung, aku tau ini juga bukan hal yang mudah untuk
dirinya. Kucoba menghadirkan sebuah senyum, dia membalasnya sambil memegang
erat kedua telapak tanganku.
“aku mencintaimu,
mungkin aku tak perlu mengatakannya...kau cukup bisa merasakan itu...”
kuhela nafas, mencoba mengatur kalimatku.
kuhela nafas, mencoba mengatur kalimatku.
“aku merasa takut
untuk hidup sendiri...”
kutunggu reaksinya. Tapi Radja hanya diam sambil menatap mataku.
kutunggu reaksinya. Tapi Radja hanya diam sambil menatap mataku.
“permintaanmu untuk
menikah lagi sungguh sangat menyakitiku...tapi aku sadar tak punya cukup pilihan,
mungkin ini termasuk bagian dari takdirku..”
Radja menghela
nafas, terdengar begitu berat..
“aku ingin kau
bahagia, itu sebuah hal sederhana yang merangkumkan segala perasaanku untukmu
atas apa yang telah kulakukan selama ini. Ternyata tak mudah menukar perasaan
ini dengan kenyataan yang kau sodorkan padaku. Aku harus memilih antara
kebahagiaanmu dan kebahagianku sendiri. Dan sungguh, aku berusaha untuk tidak
egois, tapi aku juga punya hak untuk adil pada diriku sendiri..”
“aku mengijinkanmu
untuk menikah lagi..”
kalimat itu terasa mengiris hatiku sendiri. Radja tampak terkesiap, menatap wajahku lekat-lekat seakan mencari kesungguhan atas kalimat itu. Kubiarkan keheningan membelenggu, sejenak kembali menimbang antara hati dan kenyataan, antara rasa cinta dan ego ku sebagai manusia. Setiap manusia pada akhirnya harus sendiri, itu hanya masalah waktu, setiap kita akan mampu menghadapi segala kepahitan, bahwa kita harus mampu mencintai diri sendiri untuk memberikan separuhnya pada orang lain karena setiap orang berhak untuk bahagia.
kalimat itu terasa mengiris hatiku sendiri. Radja tampak terkesiap, menatap wajahku lekat-lekat seakan mencari kesungguhan atas kalimat itu. Kubiarkan keheningan membelenggu, sejenak kembali menimbang antara hati dan kenyataan, antara rasa cinta dan ego ku sebagai manusia. Setiap manusia pada akhirnya harus sendiri, itu hanya masalah waktu, setiap kita akan mampu menghadapi segala kepahitan, bahwa kita harus mampu mencintai diri sendiri untuk memberikan separuhnya pada orang lain karena setiap orang berhak untuk bahagia.
Kembali kutatap
wajah sosok yang telah menemani dan mengisi hari-hariku selama sekian belas
tahun dalam kehidupanku. Kuyakinkan diri bahwa aku masih sangat mencintainya.
Dan semakin yakin dengan keputusan ini.
“ceraikan aku...”
-Tamat-
Sabtu, 23 Maret 2013
Tentang Bintang
Kuberi nama dia “Bintang”, karena
itulah aura yang kurasakan saat kulihat bening dua bola matanya. Karena dia memang
selayaknya cahaya kecil, indah berkelap kelip di pekat malam. Karena dia
pembawa keajaiban dalam keheningan sebuah rumah.
Sembilan tahun bukan waktu yang
singkat untuk menanti kehadirannya. Dan mukjizat itu datang, saat aku mendengar
dokter memberitahu bahwa aku positif hamil. Tak mampu kugambarkan suka cita
yang menyelimuti hati. Kebahagiaan itu adalah milik kami, aku dan suamiku.
Wujud dari sebuah cinta yang dipelihara dengan kesabaran dan keyakinan.
Bintang.. hanya itu nama yang
kusematkan pada bayi mungil yang menangis kencang dalam dekapanku saat itu, bentuk nyata sebuah keajaiban.
Airmata mengalir, selayaknya kesejukan yang melingkupi hati dan jiwaku. “terima
kasih Tuhan…” hanya itu yang mampu terucapkan dari bibirku. Tak ada yang lebih
indah daripada menjadi seorang ibu.
Hari berlalu, bulan berganti
tahun. Sengaja aku berhenti bekerja untuk memberikan kasih sayang sepenuhnya.
Tuhan begitu pemurah mempercayakannya padaku. Segala hal terbaik yang mampu kuberikan
untuk Bintang. Cinta, kasih sayang dan perhatian, dia adalah segalanya untukku.
Setiap detail yang mampu kurekam dalam memoriku tentang Bintang. Aku tak mau
melewatkannya. Dari gaya
menggeliatnya, caranya membuka mata, suara tangisnya, tendangan-tendangan
kecilnya, gerakan jemari kecilnya. Keajaiban melingkupi setiap detik, menit,
jam, waktuku. Ada
satu hal yang sedikit mengusik. Seiring waktu baru kusadari bahwa aku tak
pernah melihat senyum di wajah Bintang. Awalnya kupikir memang seperti itulah
bayi pada umumnya, mereka belum bisa mengungkapkan perasaan selain tangisan
saat lapar dan tidak nyaman karena popoknya yang basah. Kutepis segala perasaan
itu. Secara fisik, Bintang juga anak yang cukup sehat. Gigi pertamanya mulai
tumbuh di usia tujuh bulan. Umur sembilan bulan dia sudah mulai berdiri dan
belajar jalan. Sepuluh bulan dia sudah lancar berjalan. Setahun dia sudah
berlari kesana kemari, tapi sampai pada usia itu, senyum itu begitu sulit
kutemui di wajah mungilnya. Dia terlihat pemurung diantara teman-teman
seusianya.
Sampai pada suatu hari, dia
tampak begitu tertarik dengan sebuah spidol berwarna merah yang ditemukannya di
bawah meja kerja suamiku. Baru kulihat sebuah senyum kecil mengembang di wajah
mungilnya. Lalu dia mulai sibuk mencoret-coret segala sesuatu, termasuk
tubuhnya sendiri, awalnya kulihat kelucuan disitu. Tapi lama kelamaan dia
tampak terobsesi dengan spidol merah itu, seluruh tubuhnya penuh dengan coretan
berwarna merah, bahkan sampai wajahnya. Saat kuambil spidol itu dia berteriak,
menangis sekencang-kencangnya seakan aku telah merebut sesuatu yang sangat
berharga darinya. Aku begitu kebingungan dengan reaksinya saat itu. Kudekap
erat-erat dirinya, berharap bisa menenangkan, tapi dia masih tetap menangis
meraung-raung. Terasa ada sesuatu menyayat dalam hati saat mendengar
tangisannya. Aku tahu dia terluka, bukan secara fisik, tapi lebih dalam
hatinya, tanpa sengaja aku telah melukainya, dengan mengambil sesuatu yang
mampu menghadirkan sebuah senyum di wajahnya yang selalu diliputi kemurungan.
Esoknya, demi menebus apa yang
telah terjadi dengan spidol merah, kubelikan dia sekotak pensil warna. Sepasang
matanya berbinar takjub melihat deretan warna-warni dihadapannya. Tak lama
kemudian Bintang sudah asyik mencorat coret kertas gambar, dengan berbagai
warna. Dia begitu menikmati proses itu, dan mampu melakukannya sampai
berjam-jam lamanya. Aku sendiri tidak terlalu paham tentang seni. Tapi yang kurasakan
adalah semangat Bintang saat menggambar, dia seperti menemukan sebuah dunia
indah dalam versinya, yang tak seorang bisa memasukinya, bahkan aku...ibunya.
“Putri ibu mengidap autisme….” Dokter
mengatakan hal itu dengan nada datar.
Aku hanya tertegun mendengarnya.
Pikiranku terasa kosong, sedikit sulit mencerna apa yang baru saja kudengar,
antara berusaha menerima dan berpura-pura itu hanya imajinasiku. Aku menoleh
kearah suamiku yang tampak terdiam dengan wajah yang aku juga tak mampu menduga
apa yang sedang berkecamuk dalam bathinnya. Lalu kualihkan pandangan pada
Bintang, yang sedang duduk di lantai asyik mencorat coret kertas. Sedetik
kemudian sesak itu terasa membekap.
Bagaimana mungkin malaikat
kecilku mengidap autis? Dosa apa yang telah kami perbuat? Bagaimana nanti dia
di lingkungan? Bagaimana dia bisa menjaga dirinya di tengah belantara dunia?
Apa yang harus aku lakukan?
Dan airmata itu deras mengucur,
tanpa yakin atas apa yang aku rasakan sepenuhnya. Aku beranjak dari kursi,
melangkah menuju Bintang, lalu memeluknya erat-erat, berharap kehangatan dari
dekapanku akan mengalirkan kekuatan yang mungkin bisa membuatnya merasakan segala
cinta yang ingin kucurahkan untuknya.
Tapi yang kurasakan, reaksi
Bintang hanya diam, sejenak kemudian mulai memberontak, menolak pelukanku. Aku mempererat dekapan, menahan
gerak tubuhnya yang berusaha melepaskan diri. Tangisku semakin keras, aku hanya
ingin menyatukan tubuh mungil itu ke dalam diriku, mengisi kekosongan yang
mungkin menguasai dirinya, ikut merasakan kehampaan yang melingkupi dunianya.
Bintang mulai menangis, suaranya
yang memilukan semakin memperat pelukanku. Kami berdua tenggelam dalam drama.
Suamiku dan dokter segera datang berusaha melepaskan diriku yang mulai semakin
histeris. Aku masih sulit menerima kenyataan ini. Bahwa anakku seorang
penderita autis.
Kupandangi berlembar-lembar
kertas penuh gambar dan warna warni. Berulang kali aku mencoba mencerna apa
yang ada dihadapanku. Beberapa berisi warna-warna gelap, sebagian lagi diantaranya berisi
warna-warna yang sangat cerah, dipenuhi lingkaran-lingkaran kecil, kadang
bentuk-bentuk tidak beraturan, tapi memiliki warna senada. Ada satu hal yang kurasakan
pada gambar-gambar itu, entah apa. Tapi tekadang aku seperti bisa membaca sesuatu yang ingin diungkapkan lewat
warna warni diatas kertas itu. Kadang terasa semacam kesedihan, kesepian,
terkadang ada keceriaan walaupun aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjelaskan
apa yang ada dipikiranku secara rasional.
“Bintang....” bisikku lembut. Aku tau dia tidak akan mendengarku. Saat ini
dia sedang tertidur pulas. Kuambil perlahan beberapa pensil warna yang masih
ada dalam genggamannya. Kucium perlahan pipinya, sekilas kulihat jemarinya yang
penuh warna-warni. Kuraih tissue dan membersihkannya perlahan. Tiba-tiba
kurasakan mataku telah basah oleh airmata. Saat ini aku hanya ingin bersyukur
telah menerima anugerah indah ini. Kuusap lembut keningnya, kurasakan hangat
menyentuh telapak tanganku. Aku terkesiap, segera kuraih pengukur suhu tubuh,
sesaat kemudian kulihat angka yang tertera tiga puluh delapan derajat. Aku
mulai merasa gelisah. Dan selalu seperti itu saat Bintang sakit. Aku selalu
merasa terlalu takut kehilangan. Kuambil pengompres, dan mulai melakukan ritual
untuk menurunkan suhu tubuhnya.
Tubuh kecil itu tampak lemah di tempat tidur, selang infus di tangan kirinya.
Beberapa selang lagi terpasang di bagian tubuh lainnya. Matanya masih terpejam,
entah sudah berapa lama. Aku tak bisa lepas memandanginya. Membayangkan bibir
mungil itu akan mengucapkan sesuatu. Kuraih tangan kecil Bintang, menciumnya,
berharap akan ada gerakan dari sana. Aku sudah tak punya airmata, itu yang aku
rasakan setelah berhari-hari menangisinya.
Tuhan, apa yang Engkau rencanakan? Mengapa Kau memberiku kesempatan “hanya”
sesingkat ini? Apakah ini semacam hukuman bagiku? Apa rencanaMu? Kalimat itu
yang terus menderaku. Aku tidak mau kehilangan Bintang...Kumohon Tuhan,
bisikku..
Aku akan menerima dia seperti apa adanya, dengan segala apa yang Kau
limpahkan untuknya. Tolong beri aku kesempatan untuk bisa menjaganya lebih
lama.
Tuhan, apa kau begitu sibuk untuk sekedar mendengarkan doaku? Mengapa harus
Bintang-ku yang merasakan segala rasa sakit itu? Tak bisakah aku yang
menggantikannya?
Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengurangi segala rasa beban
yang dirasakannya?
Tuhan, tolong beri petunjukMu, Engkau yang Maha Pengasih, Maha Cinta,
tolong beri aku kekuatan.
Bintang menderita radang otak, dan harapan hidupnya sangat tipis, itu yang
dikatakan dokter beberapa hari yang lalu. Padahal dia baru berusia empat tahun.
Dengan segala rencana yang telah kusiapkan untuknya, dengan segala keadaan
dirinya yang telah menjadi kelengkapan dalam hidupku.
Mengapa Tuhan? mengapa harus Bintang? Mengapa harus aku yang merasakan
beban sedalam ini?
“mama...” tiba-tiba kudengar suara kecil itu. Aku berusaha memastikan diri
bahwa suara itu bukan hasil halusinasiku.
Kulihat Bintang disana telah membuka mata. Kudekatkan wajahku ke wajahnya.
“ya...ya..Bintang sayang...” terbata-bata aku mengucapkan kata.
Bibirnya bergerak-gerak tapi aku tidak mampu mendengar apa yang
dikatakannya. Kudekatkan telingaku, tapi aku tetap tak bisa mendengar apa-apa.
Kupandangi wajahnya, berusaha mencari tau apa yang ingin diungkapkannya.
Lalu kulihat keajaiban itu, Bintang memandangku
lekat lalu tersenyum, sebuah senyuman “untukku” hal yang telah kunanti selama
empat tahun ini.
Airmataku mengalir seiring tangannya yang
terasa semakin melemah dalam genggamanku.
Terasa ada udara dingin memenuhi dadaku.
Pergilah Bintang...mama ikhlas..Mungkin ini yang ingin Tuhan ajarkan pada mama,
tentang “keikhlasan” bahwa kita semua akan kehilangan, itu hanya masalah waktu,
bukan tentang kesiapan kita saat menghadapinya, tapi bagaimana kita saat harus
menjalaninya. Bahwa “setiap” kita memiliki sesuatu kita harus siap dengan
“segala” kehilangan.
Terimakasih Bintang...karena sampai
kapanpun kau akan tetap menjadi “bintang” di langit, yang walaupun tak
terlihat, aku tahu bahwa kau selalu ada di atas sana.
- Tamat -
Behind the scene: cerpen ini sempat cukup lama ke-pending. Selain karena alasan waktu dan mood yang seringkali susah diajak kompromi, juga karena pas menulis cerpen ini saya terlalu terbawa suasana hati. Baru selembar ngetik udah keburu nangis berlinangan airmata (cengeng mode on) saya pikir waktu itu sedang dalam masa PMS dan hormon lah yang menjadi "tersangka" utama penyebabnya. Karena pemikiran idealis, akhirnya saya memutuskan untuk me-rehat-kan sejenak penulisannya, karena seringkali kalo terlalu terbawa suasana hati, hasilnya malah gak bagus.
dan sore ini (akhirnya) saya berhasl menyelesaikannya, dan (masih) sempat menitikkan airmata (mungkin karena si hormon -lagi-)
Cerpen ini terinspirasi saat naek angkot tanpa sengaja, bersama seorang anak berkebutuhan khusus.
Sudah cukup lama ide nya tapi belum berhasil menuangkan dalam sebuah tulisan.
NB: cerita ini khusus terdedikasikan untuk para anak istimewa yang dikirimkan Tuhan untuk mengajari banyak hal tentang makna kehidupan, terlebih untuk para ibu hebat yang karena kasih sayang Tuhan juga, mendapat kepercayaan untuk mendampingi mereka.
Jumat, 30 November 2012
Serpihan Kisah
Tentara muda itu mengerang
memegangi bahu kanannya. Darah segar masih mengucur. Rasa nyeri terasa
menghujam seluruh tubuhnya. Luka tertembus timah panas meninggalkan bekas
berupa lubang kehitaman bercampur darah. Peluh membasahi tubuhnya. Dia berada
di tengah puing-puing bangunan, suara sirine yang menjauh, bau terbakar menyatu
dengan anyir darah. Asap masih membumbung di beberapa atap rumah. Perang dan
kehancuran. Itu yang terlintas di benaknya.
Pasukannya kocar kacir entah
kemana. Beberapa diantaranya tampak tergeletak tak jauh dari tempatnya
terbaring. Perlahan si tentara berusaha bangkit, tapi dia seakan kehilangan
seluruh energi. Rasa nyeri masih menguasai. Sebentar lagi mungkin akan datang
pasukan dari pihak musuh; membawanya, menyiksanya, bila masih beruntung mungkin
dia dibiarkan hidup beberapa lama, tapi kemungkinan besar dia akan mati,
mungkin ini menjelang akhir hidupnya, saatnya berdoa pada Tuhan yang
dikenalnya.
Tentara itu merasa pusing dan
mual, karena dia kehilangan banyak darah. Tenggorokannya kering, serasa
terbakar. Nafasnya tersengal-sengal, pandangan mulai mengabur. Tiba-tiba samar
dia melihat sesosok gadis berdiri di
dekatnya, diam, hanya memandangi.
Mungkin aku mulai berhalusinasi,
pikir si tentara muda. Dipicingkannya mata, mengusap perlahan, berusaha
memastikan bahwa yang dilihatnya memang nyata.
Tampak mulai jelas sekarang,
berdiri didekatnya, seorang gadis berusia sekitar lima belas tahunan dengan baju lusuh, kotor,
selembar kerudung tampak menutupi rambutnya. Wajah gadis itu terlihat coreng
moreng oleh debu dan abu kebakaran.
Gadis itu masih diam, menatap
tentara muda yang mulai mengerang kesakitan, tampaknya si tentara berharap
suara yang keluar dari mulutnya akan mengurangi rasa sakit yang diderita.
Lalu gadis itu merunduk, melihat
luka tembak di bahu kanan tentara itu. Dan sekejap kemudian dia pergi dari
hadapan si tentara.
Tentara itu menghela nafas lega.
Entah mengapa tadi dia merasa begitu ketakutan. Syukurlah dia pergi, bathin si
tentara. Tapi belum berapa lama, gadis itu telah kembali dengan membawa pisau
dan sebotol cairan.
Matilah aku, pikir si tentara.
Gadis itu semakin dekat, si
tentara menahan nafas, degup jantungnya semakin kencang. Ternyata kematian
begitu menakutkan, bathinnya. Dipejamkannya mata, mulutnya komat kamit membaca
berbagai doa yang diingatnya.
Saat kembali membuka mata,
dilihatnya gadis itu sedang memperhatikan lukanya dengan serius.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya
si tentara gusar.
Gadis itu hanya diam. Tampak
berpikir dengan mata yang masih tak lepas dari luka si tentara.
“Hei..apa yang akan kau lakukan?
Kau mau membunuhku? Silahkan.. tolong lakukakan saja dengan cepat, kau tak
perlu menyiksaku..”
Gadis itu masih diam.
Tentara itu beringsut berusaha
menjauhi sang gadis.
Gadis itu menghela nafas, menatap
tajam pada si tentara, dengan wajah kesal.
“Membunuhmu tidak akan pernah
menghidupkan kembali ayah dan kakak laki-lakiku…” rahangnya tampak mengeras
saat mengatakan kalimat itu.
“Diamlah..mungkin akan terasa
menyakitkan..” katanya lagi.
Gadis itu menyobek sedikit kain
bagian bawah bajunya, dan menyumpalkan ke mulut si tentara,
“Gigit itu, untuk menahan rasa
sakit” perintahnya.
Tentara itu diam, kebingungan,
belum bisa menerima apa yang dialaminya saat ini bukan sekedar halusinasi.
Sang gadis mengguyurkan cairan
berbau alkohol dari botol yang dibawanya ke luka si tentara.
Tak lama kemudian, si tentara
merasakan sakit luar biasa saat pisau gadis itu menyayat luka di bahu kanannya.
Digigitnya kain dimulutnya untuk menahan nyeri yang terasa diseluruh tubuh.
Sesaat dirinya seperti berada antara hidup dan mati.
Tentara itu tak ingat berapa lama
dia merasakan siksaan rasa sakit. Saat dia kembali mendapat kesadaran penuh,
dia melihat lukanya telah terbalut, di telapak tangannya ada sebutir peluru yang
berlumuran darah.
“Minumlah…” kata gadis itu seraya
mengulurkan sebotol air mineral, entah darimana gadis itu mendapatkannya.
“Kau sempat pingsan sebentar
tadi” kata gadis itu, dengan raut muka dingin, jemarinya masih dipenuhi darah.
“Kenapa kau lakukan ini?” tanya
si tentara masih tak mengerti.
“Kau seharusnya membunuhku dari
tadi…bukankah aku musuhmu?”
Gadis itu menatapnya tajam.
“Dendam tak akan membuatku merasa
lebih baik, kematianmu tidak akan pernah bisa membayar apapun. Pergilah
..katakan pada duniamu, perang tak akan membawa kemenangan, selain hanya rasa
sakit atas kehancuran dan kehilangan.”
Dan sang gadis pun melangkah
pergi.
-Tamat-
-
waktu cari-cari gambar yang pas untuk cerita ini, jujur
aja, ada perasaaan miris. Setiap kali mau –klik- next page, dalam hati aku
berdoa semoga tidak mendapatkan gambar yang terlalu mengerikan (ternyata aku
harus berkali-kali menahan nafas saat melihat gambar-gambar itu).
-
Cerita ini hanya fiksi, wujud keprihatinan atas satu
kata pendek yang menyimpan berbagai rasa sakit di dalamnya “PERANG”.
Langganan:
Postingan (Atom)






