Jumat, 19 April 2013

RADJA DAN AKU




Wanita diukur dari kesetiaannya, Nduk... 

kalimat itu terngiang. Kutatap bayangan di cermin.  Menelusuri setiap detail dari apa yang terpantul.  Ada beberapa kerut halus di sudut mata, garis senyumku juga mulai terlukis nyata. Kuraih sisir kayu yang tergeletak di meja, lalu mulai menyisir helai demi helai rambutku. Sudah saatnya aku mewarnai rambut lagi, bathinku. Kutemukan beberapa helai putih di dekat telinga kanan.
Kamu tau apa arti setia itu?.. 

kembali suara itu mengisi kepalaku.
“Eyang buyut telah menjanda sejak usia dua puluh tujuh tahun, dan sampai usia hampir tujuh puluh tahun, eyang tidak pernah bisa menggantikan posisi Romo Buyutmu dengan laki-laki lain.”
Aku menghela nafas, berusaha melegakan sesuatu yang tiba-tiba terasa mencekat tenggorokan.
Eyang buyut, nenek dan seorang budhe ku, para wanita yang memutuskan menjaga kesetiaan pada pasangannya bahkan sampai saat maut memisahkan. Mereka memilih untuk menjanda selama sisa hidupnya; tidak ada yang bisa menggantikan posisi, Romo buyut, kakek juga pakdhe, itulah bentuk kesetiaan mereka, menjaga kesakralan janji setia bahkan saat harus menjalani kehidupan ini “sendiri”.
Aku beranjak dari meja rias, berjalan menuju sisi ranjang.  Termenung, berusaha menganalisa apa yang ada dalam kepala. Kuedarkan pandangan menyapu seluruh ruang kamar, dan terhenti pada meja ukir di sudut ruangan, disana berjajar beberapa foto dalam bingkai-bingkai berwarna hitam dan perak. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa begitu kosong. Sebuah kehampaan yang menyelimuti saat memandangi  foto-foto itu. Satu diantaranya saat pernikahanku, beberapa lagi foto-foto saat berlibur di beberapa tempat.  Kesemuanya  hanya berisi kami berdua, aku dan Radja; suamiku. Kembali sebuah desakan terasa menohok dadaku. 
Tidak...saat ini aku tidak akan menangis, aku harus berpikir secara rasional untuk mampu mengambil sebuah keputusan,  atau justru keputusan ini harusnya aku ambil dengan mempertimbangkan perasaan terdalam? Tanyaku pada diri sendiri. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis suara-suara yang kembali memenuhi kepalaku.
Apa yang sebenarnya yang aku cari dalam hidup ini? 

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kebahagiaan, bisikku pada diri sendiri.. Sebuah jawaban bias, sebuah suara lain dalam kepala menyalahkan, itu jawaban umum dari semua orang. Kebahagiaan sebuah kata yang membutuhkan penjelasan, perwujudan, hal yang lebih nyata dari sekedar suatu perasaan yang tak terukur.  Aku mencintai Radja, sangat mencintainya, sepenuh hati, jiwa dan ragaku. mungkin dalam beberapa hal aku begitu menjunjung konsep tentang wanita jawa, “garwo” (sigaraning nyowo) yang artinya separuh nyawa dari pasangan. Begitulah aku menyadari keberadaanku sebagai wanita. Itulah bentuk nyata dari kata “bahagia” ku selama ini. Dan kini aku mempertanyakan tentang konsep bahagia itu sendiri. Kebahagiaan-ku, terdengar sedikit egois, karena kini aku jadi berpikir bahwa kebahagiaan suamiku, (mungkin) lebih penting dari kebahagiaanku sendiri. Benarkah? Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, tiba-tiba aku merasa begitu lelah. Lelah dengan segala konsep, teori dan filosofi yang berusaha aku jejalkan dalam kepala.
Karena kamu wanita, maka kesetiaan begitu penting, itu konsep sederhana yang kupahami. Lalu bagaimana dengan laki-laki? Mengapa kata kesetiaan tidak terlalu menjadi “beban” bagi mereka? Tiba-tiba saja aku merasa iri dengan Hawa. Dia yang tercipta “hanya” untuk mendampingi  Adam, tak perlu merasa  khawatir bahwa cintanya akan dibagi pada perempuan lain. Takdir telah menuliskan bahwa mereka menjadi pasangan. Meyakini bahwa tulang rusuk Adam yang hilang, terwujud dalam sosok Hawa. Yah, karena takdir, telah begitu “baik” bagi mereka. Takdir? Bahkan aku kini mempermasalahkan takdir, apa hakku untuk mempertanyakan hal itu? Takdirku adalah sebagai seorang  wanita, yang telah menikah selama lima belas tahun dengan laki-laki yang dicintai sepenuh hati, dengan sebuah kenyataan bahwa aku tidak mampu memberikan keturunan. Dengan keadaan itu, apakah aku masih punya hak untuk menuntut “kesetiaan” dari laki-laki yang aku cintai. Bahwa ternyata ketulusan dan kesetiaan, tidak cukup mampu membayar kebahagiaan suamiku.  Airmata itu tak mampu aku bendung lagi, mengalir begitu saja dari kedua mataku, dan dalam hati aku berharap tangisan ini akan mampu membasahi hatiku yang terasa kering. 
“Ijinkan aku menikah lagi...” 

kalimat pendek itu ternyata mampu membawa efek dahsyat bagi duniaku saat itu. Dalam beberapa detik aku merasa langit runtuh menimpaku. Kutatap wajah Radja lekat-lekat. Mencari kedalam matanya, benarkah itu yang baru saja diucapkannya? Kuraih cangkir teh dihadapanku, meminumnya seteguk dan merasakan duri-duri kecil  seakan menusuki tenggorokan. Kuhela nafas panjang, memberi ruang lebih banyak pada oksigen memenuhi paru-paru. Susah payah kucoba mengukir sebuah senyum di wajah. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapannya.
“Aku mencintaimu sepenuh hati, Nayla... tidak akan ada seorang pun yang akan bisa menggantikan posisimu dalam hatiku..tapi...”
“Aku tau dan tak perlu penjelasan...” potongku cepat. Aku tidak mau mendengar kalimat yang lebih menyakitkan lagi.
“Maafkan aku...” 

tiba-tiba Radja telah duduk bersimpuh, dan memegang erat-erat kedua telapak tanganku. Kepalanya tertunduk sambil menciumi jemariku, kurasakan airmatanya membasahi punggung tanganku. Kuusap lembut rambutnya. Dia seperti anak kecil yang menangis karena telah kehilangan mainannya.
“Beri aku waktu untuk berpikir...” akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibirku.
Hening. Masing-masing dari kami larut dalam pikiran sendiri.
“Kamu tau bahwa orang tuaku yang ingin agar...aku...tapi, sebenarnya...”
Aku hanya diam, menunggu apapun yang akan dikatakannya lagi. Tapi ternyata dia tidak mampu meneruskan kalimatnya. Kami kembali tenggelam dalam sepi.
Hari-hari selanjutnya adalah kesepian yang sebenarnya. Aku meminta waktu “sendiri”. Sebenarnya aku berharap Radja membiarkanku untuk pergi dari rumah sementara waktu, untuk menenangkan pikiran. Tapi dia tak mau itu. Dia memilih untuk dirinya yang sementara pergi, entah kemana, mungkin ke rumah orang tua, atau justru ke rumah “calon mempelainya”. Kugeleng-gelengkan kepala berusaha menepis pemikiran yang terasa menyakiti diriku sendiri. 
Dan tinggal sendiri di rumah, justru semacam “hukuman” bagiku.  Segala hal yang ada di rumah ini, hanya semakin mengingatkanku pada kebersamaan bersama Radja. Seringkali saat tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghabiskan waktu, kukeluarkan semua baju-bajunya dari dalam lemari, lalu kusetrika kembali satu persatu. Menelusuri setiap bagian dari pakaiannya, sambil membayangkan momen-momen saat dia memakainya, terkadang kuciumi sambil berharap ada sisa bau tubuhnya yang tertinggal disana. Dan kenyataan selanjutnya adalah rasa sesak yang semakin membuncah dan mengalirkan airmata, lalu aku hanya terduduk sendiri disudut ruangan sambil menangis tersedu-sedu.
Sarapan pagi ini, kembali aku tercenung sendiri. Hanya denting suara sendok saat mengaduk kopi yang mengisi kekosongan. Kuoles perlahan selembar roti dengan mentega. Kenangan itu berkelebat begitu saja. Radja tidak  suka saat aku mengoles lembar rotinya dengan terlalu banyak mentega, aku sudah tau pasti takaran untuk mentega, selai atau seberapa kering aku harus memanggangnya. Aku selalu menyukai segala detail yang harus aku lakukan untuk melayaninya. Kini yang terasa sangat menyakitkan bahwa segala cinta dan perasaan yang kumiliki harus dihargai “hanya”  sebatas rahimku.  Laki-laki mungkin memang tercipta untuk selalu dimengerti dan wanita harus berusaha selalu mengerti, seberapapun pahitnya itu. Aku tak tau mana yang lebih mengerikan, hidup dalam kesendirian dan kesepian selama sisa hidup ataukah membayarnya dengan segala ketidaknyamanan atas ego dan kecemburuan? Tak ada yang lebih baik dari keduanya.
Kami duduk berdua, saling berhadapan. Radja tampak jauh lebih kurus dari saat terakhir aku melihatnya. Matanya tampak cekung, aku tau ini juga bukan hal yang mudah untuk dirinya. Kucoba menghadirkan sebuah senyum, dia membalasnya sambil memegang erat kedua telapak tanganku.
“aku mencintaimu, mungkin aku tak perlu mengatakannya...kau cukup bisa merasakan itu...” 
kuhela nafas, mencoba mengatur kalimatku.
“aku merasa takut untuk hidup sendiri...” 
 kutunggu reaksinya. Tapi Radja hanya diam sambil menatap mataku.
“permintaanmu untuk menikah lagi sungguh sangat menyakitiku...tapi aku sadar tak punya cukup pilihan, mungkin ini termasuk bagian dari takdirku..”
Radja menghela nafas, terdengar begitu berat.. 
“aku ingin kau bahagia, itu sebuah hal sederhana yang merangkumkan segala perasaanku untukmu atas apa yang telah kulakukan selama ini. Ternyata tak mudah menukar perasaan ini dengan kenyataan yang kau sodorkan padaku. Aku harus memilih antara kebahagiaanmu dan kebahagianku sendiri. Dan sungguh, aku berusaha untuk tidak egois, tapi aku juga punya hak untuk adil pada diriku sendiri..”
“aku mengijinkanmu untuk menikah lagi..”

 kalimat itu terasa mengiris hatiku sendiri. Radja tampak terkesiap, menatap wajahku lekat-lekat seakan mencari kesungguhan atas kalimat itu. Kubiarkan keheningan membelenggu, sejenak kembali menimbang antara hati dan kenyataan, antara rasa cinta dan ego ku sebagai manusia. Setiap manusia pada akhirnya harus sendiri, itu hanya masalah waktu, setiap kita akan mampu menghadapi segala kepahitan, bahwa kita harus mampu mencintai diri sendiri untuk memberikan separuhnya pada orang lain karena setiap orang berhak untuk bahagia.
Kembali kutatap wajah sosok yang telah menemani dan mengisi hari-hariku selama sekian belas tahun dalam kehidupanku. Kuyakinkan diri bahwa aku masih sangat mencintainya. Dan semakin yakin dengan keputusan ini.
“ceraikan aku...”

-Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar